![]() |
| Foto: fotograficirebon.wordpress |
Hari
itu adalah hari yang terlalu biasa. Jam 11.40 WIB, tepat ketika matahari lurus-vertikal
di atas ubun-ubun, Kota Cirebon terbuat dari lalu-lalang kendaraan, bau knalpot,
suara bising, dan udara bersuhu 31˚C. Satu kondisi yang hanya pemilik mental
nabi yang melaluinya tanpa keluh kesah dan sumpah serapah.
Tapi
saya, seperti juga masyarakat Cirebon yang lain adalah manusia biasa. Berada di
jalanan kota cirebon di jam-jam rawan kehilangan sabar macam itu aneh rasanya
kalau tidak sambil menggerutu, memencet klakson panjang ketika terjebak macet,
atau marah-marah ke sopir angkot yang seenaknya berhenti di tengah jalan.
Di
situ saya jadi ingat pernyataan seorang pejabat pemerintah Kota Cirebon di
salah satu media. Konon menurut dia, kota Cirebon sekarang sedang bergegas
menjadi kota besar. Berbagai proyek pembangunan sudah dan sedang dilakukan. Kemudian
ia melanjutkan pernyataannya dengan nada keimanan yang kaffah: “kemacetan dan kesemerawutan di beberapa ruas jalan Cirebon
adalah tanda bahwa kota ini akan menjadi kota besar”. Setelah membaca itu saya hanya
bisa berharap, semoga tanda-tanda kiamat tidak makin banyak.
Yang
pasti, saya tidak berniat mencari hubungan ilmiah apalagi hubungan gaib antara
kemajuan kota dan kemacetan sebagai indikatornya. Rasanya, tukang riset sekelas
alumni ISIF pun akan kewalahan kalau harus meneliti itu. Tapi bagaimanapun,
wajah Cirebon di media menyoal rencana pembangunan jauh lebih optimis dan
menjanjikan ketimbang realitasnya.
Membaca
cirebon di media-media lokal, dengan segala macam rencana pembangunannya,
ibarat menyaksikan iklan perumahan ala Feni Rose di Metro TV: menjanjikan hunian
nyaman, akses yang mudah, fasilitas lengkap, dan berbagai macam hal baik lainnya
yang bisa kita semua rasakan. Nalar advertorial memang paling bisa menghibur
dan menjanjikan: Melihat sedikit kebaikan dari satu hal, membesar-besarkannya, kemudian
menihilkan hal-hal buruk yang menyertainya. Bagian ini, media lokal kita
jagonya.
Sejauh
ini media lokal kita tak lebih dari sehimpun advertorial yang genit menggembar-gemborkan
pembangunan kota Cirebon, dengan mengutip data sana-sini, namun minim analisa
apalagi rasa.
Tentu
butuh lebih dari nalar advertorial untuk terus mengawal arah pembangunan kota
Cirebon. Juga tak mungkin mengandalkan media lokal kita yang mentok pada gaya
penulisan ala zaman kompeni (straight
news) dengan kutipan-kutipannya yang kering analisa, kering rasa. Ketika
membaca, saya membayangkan wartawan kita menulis berita-beritanya dengan wajah polos
tanpa dosa, dengan tatapan kosong sedikit ngantuk, sambil sesekali ketawa jahat:
Mirip pengidap psikopat yang kurang ngopi.
Sedangkan
di luar sana, yang mereka tulis sebagai pembangunan tengah berlangsung dengan
suka cita: setiap minggunya, ada lebih dari 2 hektar tanah kota Cirebon berubah
menjadi hamparan beton dan etalase. Sampai 2014 saja, lebih dari 1600 hektar
dari 3800 hektar luas keseluruhan kota Cirebon yang sudah dijadikan pusat
perdagangan dan jasa (BAPPEDA KOTA CIREBON, Kompas.com). Dan tentu jumlah
tersebut masih terus bertambah di tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya, mengingat
syahwat bangun-membangun pemerintah kota kita masih meluap-luap dan tak
terkendali. Persis anak SMA yang baru liat
bokep.
Terhitung
tahun lalu saja (2014) tak kurang dari 15 investor yang sudah mengantri dan bersedia
menginvestasikan uangnya di kota Cirebon (DPUPESDM Kota Cirebon, kompas.com). Tercatat
ada lebih dari 94 ajuan untuk penggunaan lahan dan yang sudah mendapat ijin ada
47 ajuan, yakni 23 hotel dan 22 perumahan (BAPPEDA, Data 2013). Itu semua data
shahih, keluar dari mulut pemerintah kita dengan nada bangga tingkat dewa.
Selesai
di angka itu? Belum! Ada proyek senilai Rp.38 triliun untuk menyangga kegiatan
bangun-membangun di kota ini: tol Cipali (Cikopo-Palimanan) (Rp.12,56 T), yang
konon menjadi tol terpanjang di negeri ini. Kemudian proyek Bandara
Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, di Kabupaten Majalengka (25,4 T)
yang memakai lahan 5000 hektar. Dua proyek itu lah yang akan memberi akses
penuh bagi percepatan pembangunan di kota Cirebon. Bahkan jauh lebih cepat
sebelum kita lupa bahwa ada pejabat di kota ini yang merasa telah tinggal di
kota besar saat terjebak macet.
Setiap
kota adalah manifestasi dari peradaban. Ia adalah konsekuensi logis dari hasil
dialog antara berbagai elemen yang membangunnya, entah itu masyarakat, lingkungan
hidup, kehidupan sosial-ekonomi-politik, dan tentunya sejarah sebagai akar yang
menjalar-erat-kan hari ini dengan masa lalu. Dari situ lah logika pembangunan
semestinya bertolak.
Menerjemahkan
pembangunan kota hanya sebatas tembok dan beton hanya akan memisahkan kota
dengan masyarakatnya, masyarakat dengan lingkungannya, serta lingkungan dengan
sejarahnya. Elemen-elemen kota akan remuk akibat benturan kepentingan pemodal. Sudah
semestinya pembangunan di kota Cirebon memiliki keberpihakan kepada masyarakat
dan ruang hidup yang melingkupinya.
Karena bagaimanapun, Kota adalah ruang materi
sekaligus non-materi bagi orang-orang yang menghuni di dalamnya. Ia tidak hanya
bentangan lahan ataupun seperangkat ornamen sebagai penanda kebudayaan dan geliat
peradaban suatu tempat saja. Namun, kota juga merupakan suatu lanskap bagi
imajinasi para penghuninya: tempat kita secara intim bersentuhan dengan realitas
hidup kita, mengenalinya, dan turut menentukan arah perubahan yang akan
terjadi.
Namun, berada di jalan utama kota ketika matahari
tepat di atas ubun-ubun, dikepung oleh hiruk pikuk lalu lintas dan gegap
gempita proyek pembangunan membuat saya sadar, kota ini tengah bergegas menjadi
sesuatu yang asing. Kita seperti tidak lagi hidup di dalam kota, tapi di dalam
etalase: yang segalanya bisa di jual, termasuk ruang hidup kita sebagai
masyarakat kota. []
*Oleh Asep Andri. Mahasiswa
ISIF sekaligus Alumni LPM FatsOeN.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar