Menyoal Ritme Zaman; Berubah dan Dirubah - LPM FatsOeN

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Menyoal Ritme Zaman; Berubah dan Dirubah

Share This


By: Nia Mardiyani
Teh hangat yang telah disugukan beberapa menit lalu masih menyisakkan kepulan asapnya, sementara hujan telah menyisakkan rintik tak berkesudahan sedari pagi buta. Padanan sempurna antara teh hangat dan hujan, keharmonisan keluarga nampak setelahnya. Dingin, tapi kau tetap merasakan hangat. Bukan sebab tehnya, ada pada hati letak kehangatan itu berasal. Hati yang menghangat akibat tawa bahagia dari yang terdekat menjadi permulaannya, lalu setelahnya rasa hangat menjalar pada setiap jengkal tubuhmu.
Mungkin, keindahan itu bisa dirasakan oleh sebagian keluarga yang lain. Masing-masing keluarga memiliki jalan ceritanya sendiri untuk bahagia. Aku akan berkisah, bagaimana satu anggota keluarga bahagia dengan caranya.
Kisah itu bermula saat dahulu seorang gandis kecil pandai melontaran canda ketika perkumpulan keluarga, tingkah lucunya selalu mencuatkan gelak tawa. Keluarga tersebut diliputi kebahagian tak terhingga, semacam cerita-cerita dongeng yang berakhir hidup bahagia. Meskipun kehidupan selalu berubah-ubah, kita hanya perlu menatap masa yang saat itu terjadi. Rasa bahagia yang hadir tentu diiringi pula dengan harapan agar kebahagian bisa mereka rasakan hingga akhir.
Zaman pun berubah, manusia harus pandai dengan ritmenya. Idealismenya menuntut agar ia bisa sebagai pelopor seiring dengan berubahnya zaman, ia yang bisa menggerakkan ritme zaman bukan malah sebaliknya. Sejak saat itu, teh hangat bukan lagi menjadi objek menarik bagi gadis tersebut. Teknologi lebih menarik minatnya ketimbang secangkir teh hangat, hujan, dan keluarga.
Arus zaman yang berubah telah merubah gadis itu. Kecanggihan teknologi pada abad ini memang harus diakui sudah membuatnya dimabuk kepayang. Gadis yang cukup pandai dibeberapa bidang mata pelajaran itu kini menduduki bangku kuliah. Menurutnya, bangku kuliah adalah saat-saat dimana berjuang mewujudkan impian telah sampai di depan mata. Pola pikirnya pun berubah. Ia dewasa menyikapi beberapa persoalan yang melandanya.
Sebagai agent of change, katanya ia harus bertindak beda, tapi nyatanya sekat timbul setelahnya. Menjadi dewasa membuatnya lebih asik dengan dunianya sendiri; seperti asik dengan teknologi kemudian mengasingkan diri di dalam sudut kamar.
Mungkin, keharmonisan keluarga itu  masih bisa terulang kembali. Tentu dengan nuansa yang perlu diremake supaya menarik pemuda abad ini; teh hangat, hujan, keluarga, dan handphone yang digenggam oleh masing-masing pemilik tangan. Keironisan yang lengkap adanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages