Ide dan gagasan liar tak hentinya menjalar
membabat tradisi, seni, sastra, dan budaya yang kian terlantar
Hingga ke dalam lekuk sukma, lautan Cinta tak pernah habis dibaca
Orang tua, guru, sahabat, bahkan musuh diskusi ini, sangat berjasa
untuk hamparan tanah peradaban yang pernah ada
Raga terpendam, spirit mu kan terus berjalan
atas nama kebudayaan
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Kami yakin, teriak mu akan kian lantang dari ruang kedamaian
Saat itu, pertengahan tahun 2009. Aku mahasiswa semester lima, jurusan Pendidikan Bahasa Iinggris, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), yang kini Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Cirebon. Sejak menyandang status mahasiswa pada tahun 2007, aku belajar menjadi seorang mahasiswa yang aktif (bukan juga aktivis). Sebagian waktu kuhabiskan di ruang kelas, di emperan gedung fakultas-rektorat, di taman kampus, di warung-warung kopi bersama kawan kelas, lintas organisasi, dan juga kawan yang entah dari mana asalnya. Ku juga habiskan waktu di tempat favorit; sebuah wadah bagi mahasiswa yang gandrung terhadap dunia tulis menulis, berdiskusi, dan mencari tahu hal yang sedang terjadi di sekitar kampus. Ruang kecil berukuran sekitar 4 X 4 meter di sisi barat graha mahasiswa ini, bernama Sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) FatsOeN. Selain belajar, sekretariat ini menjadi tempat tinggalku selepas “boyong” dari Pondok Pesantren.
Di LPM FatsOeN, aku mendapat kawan, guru, saudara, bahkan keluarga. Kami berproses kreatif menjalankan roda organisasi Pers Kampus, dan menerbitkan produk media, layaknya perusahaan media profesional. Tentu, tiap bulannya, kami melakukan proyeksi – berbagi tugas peliputan – pengumpulan hasil reportase – editing – layout – pracetak – cetak – pelipatan – hingga bulletin dan majalah bernama METHODA didistrubusikan ke civitas akademik kampus IAIN Cirebon. Selain itu, Kaderisasi, dan diskusi menjadi menu wajib mingguan, bulanan, danjuga tahunan, dari divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang). Di sinilah, kesempatan LPM FatsOeN bersama kadernya, melebarkan sayap ke dalam-luar kampus dengan belajar kerjasama pada berbagai orang, komunitas, perusahaan, pemerintah, dan lain sebagainya.
Satu ketika, beberapa waktu usai Ujian Akhir Semester (UAS), bulan Juli 2009, kakak angkatan LPM FatsOeN, Lutfiyah Handayani, mengajakku ke salah satu tempat, yang terletak di sekitar komplek perkantoran Bima, tepatnya di sayap kiri Gedung Nyimas Rarasantang, yang dikenal sebagai kantor Dewan Kesenian Cirebon (DKC). Di tempat inilah, aku mengenal orang yang kerapkali disebut dalam ruang diskusi kebudayan di beberapa tempat, dialah Ahmad Syubbanuddin Alwy, yang akrab disapa Mas Alwy. Pertemuan yang kulupa hari dan tanggalnya itu, ternyata menjadi permulaan pembelajaranku tentang sastra dan kebudayaan.
Namun, pertemuan itu bukanlah untuk membahas perihal kebudayaan, melainkan rencana penerbitan buku puisi kerabatnya, Iverdixon Tinungki, penyair asal Manado. Mas Alwy bertugas membaca, dan mendiskusikan seluruh isi buku, bersama sang penyair secara jarak jauh. Sementara, aku, yang dianggap memiliki sedikit kemampuan men-design dan me-layout, diminta untuk menyusun berlembar-lembar puisi, menjadi sebuah buku. Tugas dan kerjasama pertama bersama Mas Alwy selesai dengan baik. Buku Aku Laut, Aku Ombak (antologi puisi berlatar sejarah) karya Penyair Iverdixon Tinungki, dengan 110 halaman, penerbit Kutub Yogyakarta, berhasil terbit perdana, pada Oktober 2009.
Tak hanya men-design, ilmu teknisi komputer yang pernah kupelajari, kembali menjadi perantara untuk kembali datang ke DKC. Saat itu, Mas Alwy memintaku memeriksa dua buah komputer, dan juga mesin printer yang sedang tak sehat. Terimakasih Tuhan. Alasan demi alasan ini, menjadi berkah. Aku diperbolehkan berulang kali berkunjung untuk ikut baca buku, belajar, berdiskusi, dan juga ngopibersamanya, serta senior yang lebih awal di DKC dan Komunitas Lingkar Studi Sastra (LSS), antara lain: Mas Jay Ali Muhamad, Mas Kampleng, Mas Edeng, Mas Rahman, Mas Arif, Mba Upi, Mba Nani, Mas Fathan, Ang Mulyanto, Ang Husen Ali, Mba Nissa Rengganis, dan Idris. Tercatat, usai panjang jimat Keraton Kanoman Februari 2010, Mas Alwy berbisik, “… Aray, sudahlah, kau pindah dan menetap tinggal di DKC. Kau tinggal, dan hidup di sana. Kau harus belajar menulis, dan harus menjadi penulis hebat. Kalau hanya pengalaman, Kau akan menjadi mahasiswa yang sia-sia dan rugi …,”. Sejak saat itu, aku “nyantri” dan tingal di kantor DKC, bersama para senior.
DKC sebagai Ruang Kreatif Pecinta Sastra dan Kebudayaan
Bangunan di “sayap kiri” Gedung Kesenian Cirebon Nyi Mas Rarasantang itu, memiliki tiga ruangan. Ruang pertama, difungsikan untuk tempat buku, operasional kantor, diskusi, rapat, dan juga menerima tamu, ruang tengah untuk menulis dan istirahat Mas Alwy, sedangkan ruang belakang, difungsikan untuk dapur, dan kamar mandi. Lokasi yang tepat berada di lingkungan gedung kesenian ini menjadi pusaran dan magnet kebudayaan tersendiri sejak pendiriannya tahun 2003 silam.
Di ruang kreatif (DKC) ini, Mas Alwy kerap kali meluapkan keprihatinannya terhadap kondisi Cirebon yang “kian gersang”. Sebagai kota sarat nilai sejarah dan budaya, Mas Alwy justru tak banyak “melihat” sastra, dan kebudayaan tumbuh subur. Tak jarang, kepada kami, ia bandingkan semangat diskursus kesusastraan yang bergolak di Yogyakarta, Bali, dan sejumlah daerah lainnya. Dengan karakter khas, kritisnya, Mas Alwy, berupaya menjadikan kantor DKC sebagai basis ruang kreatif para pecinta dan kritikus sastra dan kebudayaan. Tiap waktu, ia kerap kali memecut santri dan siapapun yang ada di hadapannya dengan gagasan dan ide-ide besar. Tak hanya itu, hampir setiap tahun, ia juga menggelar berbagai kegiatan sastra bersama berbagai kalangan, mahasiswa dan hingga pelajar, sebagai harapan melahirkan generasi penerus pejuang sastra. Beberapa di antaranya melalui agenda lomba baca puisi basa Cerbon 1, 2 dan 3, dan sederet agenda sastra budaya lainnya.
Meski dikenal kritis, tegas, dan garang, Mas Alwy mengobral sebagian bukunya untuk dibaca dan dijadikan bahan diskusi. Bahkan bila kurang, tak sungkan, dia mengizinkan si pembaca untuk berkunjung ke rumahnya, untuk berada di ruangan sesak penuh buku, dan membacanya satu persatu. Sikap ini jelas membuktikan, Mas Alwy sangat pemurah, pecinta, dan sekaligus penyayang bagi siapapun yang hendak belajar sastra. Ia juga menyayangi lingkungan, dengan mengajarkan hidup bersih, (menyapu, merapihkan, dan menyirami tanaman sekitar), dan juga tertib dalam menggunakan barang-barang. Dan perlu dicatat, Mas Alwy memiliki selera humor tinggi, canda cerdas, imajinatif, hingga canda “jenaka”, itu terlihat saat ia beberapa kali mengambil sapu dan memainkannya sebagai gitar, menari, sambil mendendangkan lagu-lagu Bang Haji Rhoma Irama.
Mas Alwy merupakan keturunan ke empat pendiri Pondok Pesantren Gedongan, Kiayi Muhamad Said, dan putra pertama dari K.H Abdusshomad, dan Hj. Aminah. Darah pondok pesantren yang mengalir dalam jiwa raganya mencipta karakter tersendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, dia dikenal sosok mudah pergaul, dari golongan Elit hingga kaum Alit. Dalam ruang-ruang diskusi, Mas Alwy juga dikenal “Singa Seminar”, lantaran menjadi bintang dalam seminar, dan mampu menghidupkan dengan joke yang menyegarkan. Wawasan sastra yang luas, dan basis pijakan sastra yang kuat, “sastra santri”, membuatnya kerap diundang menjadi pembicara di berbagai forum sastra di Indonesia. Ia juga dikenal sebagai, Pejuang Sastra Santri Indonesia.“Kalau di forum sastra ada Alwy, acara selalu ramai. Ia cerdas dan pendapatnya sering kontroversial,”kata Isbedy Stiawan, penyair Lampung. (Kutipan www.teraslampung.com, dari The Jakarta Post).
Sebagai Ketua DKC Tahun 2003 – 2014, Mas Alwy memiliki segudang pengalaman proses kreatif di dunia kesusastraan dan kebudayaan. Perjalanan proses kreatifnya, dapat terlacak saat berada di dunia perkuliahannya, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada tahun 1980-an. Ia terus melahirkan berbagai hasil karya berbentuk esai, puisi, dan lainnya, yang tersebar di media lokal, hingga nasional, jurnal, dan juga di banyak diksusi dan seminar kebudayaan. Sejumlah hasil karya yang berhasil dibukukan antara lain “Bentangan Sunyi (1996), karyanya juga dimuat di beberapa antologi puisi seperti Negeri Bayang-Bayang (1996), Cerita Alam (1997), “Puisi Indonesia 1987” Titian Antar Bangsa (1988). Ia juga didaulat membaca puisi di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta pada “Pertemuan Penyair Indonesia 87”. Hingga pada tahun 2000, Korrie Layun Rampan memasukan namanya dalam sederet Sastrawan Indonesia Angkatan 2000 bersama sastrawan lainnya.
Tak Sebatas Guru, Mas Alwy Orang Tua Bagi Para Muridnya
Tak hanya di DKC, Mas Alwy, juga mengizinkanku untuk beberapa kali menemaninya, tinggal bersama di rumahnya di Griya Sunyaragi Permai (GSP), Jalan Sonokeling, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon. Maret tahun 2010 itu, secara tidak langsung aku juga mulai hidup bersama istri tercintanya, Mba Eva Nur Arovah, sejarawan lulusan S2 UGM Yogyakarta, yang juga Khafidhoh Quran. Keduanya mengajariku banyak hal tentang merawat hidup, merawat hati, fikiran, hingga merawat hubungan antara hamba dengan Tuhannya. Mereka sangat penyayang, mereka tak hanya “bertangggungjawab” tentang isi di balik tempurung kepala, melainkan kerap kali bertanggung jawab untuk isi genggaman tangan alias sangu kuliah, hingga isi dalam lambung.
Satu malam, akhir bulan ketiga itu, dari kamar penuh buku, Mas Alwy pilihkan setumpuk buku cerpen. Tak hanya dibaca, ia juga memintaku untuk langsung membuat catatan dari tiap buku yang rampung dibaca. Beberapa buku novel dan cerpen antara lain: Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari (novel), Rumah Kawin karya Zen Hae (kumpulan 9 cerpen), Godlob karya Danarto (kumpulan 9 cerpen), Berhala karya Danarto (kumpulan 13 cepen), Gergasi karya Danarto (kumpulan 13 cerpen), Malam Sepasang Lampion karya Triyanto Triwikromo (kumpulan 17 cerpen), dan Sayap Anjing karya Triyanto Triwikromo (kumpulan 15 cerpen). Sebelum tumpukan buku ini selesai, aku tak diizinkan membaca buku lainnya. Namun setelah itu, barulah aku diperbolehkan memilih, dan membaca cerpen lain semisal Seno Gumira Ajidarma, dan sebagainya.
Ingatanku juga masih segar, dalam kamar itu, kami kerap kali menghabiskan waktu bersama. Dia duduk di atas bangku menghadap laptop, lampu pijar, dan barisan buku di atas meja, dan kuberada di bawah dengan tumpukan amanat itu. Dalam kamar ini juga, aku kerap kali mencoba membantu mengetikan sejumlah materi diskusi, seminar, puisi, dan juga hasil karya lainnya. Salah satunya adalah essai berjudul Nahdlatul Umum, yang menjadi salah satu materi dalam buku dari Kiayi Kampung ke NU Miring.
Tak hanya soal keilmuan, Mas Alwy dan Mba Eva juga berbicara banyak soal kehidupan umum. Ia mengajarkan begitu banyak hal, yang tak dapat disebut satu persatu. Kami hidup dan menikmati hari bersama. Kami juga masak dan makan bersama, bahkan tidurpun tak jauh dari mereka. Meski hanya beberapa bulan, pengalaman ini membuktikan, mereka tak hanya mendidik, tapi sangat menyayangi para muridnya seperti orang tua pada anak. Sejak saat itu, aku panggil mereka “Ibu dan Bapak”.
Permohonan Maaf
UAS semester 7, menjelang akhir tahun 2010, sejumlah buku bersama beberapa lembar catatan hasil bacaan sudah kuselesaikan. Aku memilih, kembali menghabiskan sebagian besar waktu di kampus untuk menyelesaikan beberapa mata kuliah, dan juga tugas organisasi LPM FatsOeN, sebagai Pimpinan Litbang. Meski demikian, aku berusaha masih terlibat sejumlah kegiatan di DKC dan LSS, Peluncuran dan Diskusi Antologi Puisi Biduan Dangdut karya Abdurahman Muhamad, September 2010, Monolog Butet Kartaredjasa “Kucing karya Putu Wijaya” Februari 2011, Kemah Sastra Oktober 2011, dan Pekan Pemutaran dan Diskusi Film LSS, November 2011. Pada bulan yang sama, Pak Alwy bersama sejumlah Penyair Cirebon dan daerah lainnya juga menerbitkan buku Suluk-Suluk Pesisir (Kumpulan Puisi Cirebon), karya Abdul Aziz, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Fathan Mubarak, Jay Ali Muhamad, Nurdin M Noor, Nurachman Sudibyo YS, Saptaguna, Sunarto Martatmadja, dan Supali Kasim.
Pekan Pemutaran Diskusi Film LSS, dan juga penerbitan buku Suluk-Suluk Pesisir ini menjadi momen akhir keterlibatanku dalam kegiatan DKC dan LSS. Aku memilih fokus menyelesaikan skripsi, sidang, wisuda, dan hingga lulus dengan nilai IPK 3, 17. Selepas kuliah, aku melanjutkan belajar tradisi menulis dengan menjadi wartawan lokal Kabar Cirebon (Grup Pikiran Rakyat), delapan bulan berikutnya pindah ke media online Inilahkoran.com (grup inilah.com), dan pada Oktober 2013, secara resmi berproses kreatif di Kompas Gremedia Grup, di Kompas TV, dan Kompas.com, hingga saat ini.
Satu persatu ke-alpha-an yang kulakukan pada Pak Alwy dan Bu Eva saat masih bersama, mulai renggang, dan hingga menjelang wafat, adalah rentetan dosa. Aku hanya sempatkan sejenak waktu saat buah hatinya, Muhamad Kresna Djati lahir di Rumah Sakit Sumber Waras, 19 Maret 2012. Aku alpha saat laptop yang menjadi wadah segudang karyamu raib digondol maling. Aku juga sempat alpha saat kantor tempat kita semua berproses kreatif (DKC) dihancurkan “orang tak dikenal”, dan aku alpha saat kau sakit pertama, kedua, ketiga, dan hingga, hanya menemani beberapa jam sebelum kau menutup mata, di RS Sumber Waras, Senin petang (02/11/2015) lalu. Dan Aku haqqul yaqin, Malaikat mencatat dengan baik, segala kesaksian serta doa kami semua, menjelang dan pasca kau dikebumikan.
Terimakasih banyak tak terhingga Pak Alwy, yang tak pernah lelah memberikan Cinta untuk kami semua. Kau wariskan berjuta ilmu, kau pahatkan kesan, dan guratkan perspektif tentangmu, terhadap kami semua yang pernah berjumpa denganmu. Selamat jalan Kiayi, selamat jalan Pejuang Sastra Santri Indonesia, selamat jalan Guru, Sahabat, dan juga Orang Tua. Damai, Tenang, dan Senang di sana. Kami yakin, teriak (karya)-mu akan kian lantang dari ruang kedamaian.
*Terimakasih banyak Ibu Eva yang telah berkenan membaca deretan kata-kata ini di hari ke tujuh mengenang kepergian Bapak, Balerante, Palimanan, Cirebon, Senin Malam (09/11/2015).
Oleh: Syahri Romdhon (Aray), Alumni LPM FatsOeN yang pernah aktif juga di Dewan Kesenian Cirebon (DKC).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar