![]() |
| sumber gambar: http://revolusizaman.blog.uns.ac.id/gerakan-reformasi-gagal-mau-dibawa-kemana/ |
Oleh: Mahabatis Shoba*
Ingatlah suatu
saat kalian tetap haus berjuang
Sampai titik
darah penghabisan
Sampai kalian tak
merasakan gerak tulang kalian
Sampai kalian tak
merasakan tegap atau membungkuk
Sampai pada saat
itulah kalian berjuang bukan berceai-berai.
~⚝⚝~
2002
Ibuku sudah tiada semenjak 4 tahun yang lalu. Itu kali
pertamanya aku merasakan kehilangan yang begitu dalam. Kini aku tinggal hanya
bersama ayah dan abangku saja. Melanjutkan kuliah dan bergaul nakal, sama
seperti mahasiswa lainnya.
Pagi itu, kala angin masih sedingin malam.
Kala daun masih merangkul embun bagai basah dahan kayu atas hujan. Terlebih
lagi kala mata ini baru saja terbit. Pada saat itu mungkin sejenak akan ada.
Pada saat itu suasananya masih asri, aroma khas mampu dicium hingga sehatnya
memenuhi paru paru. Membiarkan telapak kaki menyentuh jalan dingin pun terasa
segarnya pula. Membiarkan helaian rambut menyapu muka dengan manja, sedangkan
dada sesak dengan kekaguman. Gerakan itu mulai terulang, berjalan, merentangkan
tangan, mengangkat bahu, dan menghirup udara. Segar! Memang tak pernah sesegar
ini sebelumnya. Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya aku melewati jalan ini dan
kini aku tersenyum bagai janggal karena jarang dirasa sehingga membuncahlah
rasa itu menakjubkan bagai merasa bebas!
“Dulu juga pernah lewat sini”, dialogku dalam
hati. Di sini, Jl. Jend. S. Parman. Namun, ya, aku tahu kala itu suram,
sehingga tak dilanjutkannya dialog itu demi untuk tidak merusak suasana hatiku
saat ini.
Aku berbalik ketika jalan sudah habis
kutapaki, merenungkan kelakuanku kembali. Aku terduduk kala itu, membuka
pandang bahwa pada saat ini sudah bukan aku yang dulu lagi. Tapi ya sudah saja,
bedanya hanya dulu aku memiliki emosional yang sering naik turun. Tetapi hatiku
tetap sama sampai saat ini, tetap rindu. Kemudian aku berlalu dengan doa mulia
dari bibirku, teruntuk ibuku.
Pada saat itu pula suatu pandang yang lain
bercakap pula tentang hidup ini. Seseret asa menggiring langkah kakiku
untuk kembali pada kehidupan yang kini adanya. Lagi, aku akan senang jika harus
mengulangi aktivitas baruku itu. Yaitu, menikmati setiap tarikan hela nafas dan
desir aliran darah serta denyut yang berirama itu.
Sudah lama semenjak sepeninggal ibuku, aku merasa
berjuang seterpa kulit saja. Bekerja sambilan yang tak kunjung untung dan
menekuni hobi menulisku yang juga tak pernah rampung, pun tak pernah diterima
oleh penerbit. Tetapi tetap saja ku menulis setelah aku menjadi salah satu
korban yang lolos atas tragedi Trisakti, dan aku memutuskan menjadi wartawan.
~⚝⚝~
1998
Pada saat itu, aku telah bergabung dengan gerakan
mahasiswa. Melakukan aksi demonstrasi demi perubahan negeri ini. Ibu yang
sedang sakit menelfon kala pagi sebelum aku mulai aksi demonstrasi. Beliau
berpesan agar aku pulang saja ke rumah, tetapi aku menolak dengan lembut maksud
hati ibuku. Ku pikir Ibu tentu khawatir, namun atas solidaritas dan demi
merubah nasib negeri ini, aku tak bisa tinggal diam menyaksikan porak poranda
di bawah pemerintahan Soeharto.
“Kita harus menyusun strategi matang untuk pergerakan
ini, benar benar sampai titik darah penghabisan”. Dewan Ketua pemimpin rapat
berkata dengan kilat semangat di matanya, dan dada yang degupnya membuncah
sampai ke dinding ruang rapat. Kami para anggota mendengarkan dengan seksama
untuk aksi yang tidak bisa dibilang main-main ini, misi menggulingkan Soeharto
dari. Tahun 1998, menorehkan sejarah lembar hitam pada negeri Indonesia ini.
~⚝⚝~
2016
“Sampai
titik darah penghabisan!”. Kata kata itu masih terngiang sampai saat ini. Aku
tak pernah berhenti bersyukur atas hidupku saat ini, menyaksikan perkembangan
dari satu generasi ke generasi lain, menanamkan sikap nasionalis yang ku
bungkus sedari dulu dalam benihnya. Kelak di tabur pada jiwa jiwa anak bangsa
Indonesia. Pagi yang cerah, digelarlah sebuah perlombaan menulis cerita untuk
tingkat SMA sederajat. Aku datang pada acara yang diselenggarakan di sebuah
hotel itu, datang sebagai narasumber ulik sejarah pahlawan nasional. Dan aku,
tak datang sekadar jadi seorang narasumber.
Mulai! ku mulai aba-aba itu, memenuhi seluruh ruangan
memimpin perlombaan menulis cerita, sedang aku melihat seorang bocah
berkeringat dingin. Ini kompetisi pikirku, semua orang berpikir dan berusaha
untuk menjadi juaranya. Kira kira seperti itu. Namun lain dengan aku yang juga
berkeringat dingin di sini. Mengenang sebuah tema yang ku ciptakan sendiri,
tema kali ini REFORMASI.
-selesai-
*Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Semester IV dan pegiat LPM FatsOeN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar