Genre :
Horor
Durasi :
78 menit
Sutradara : Awi Suryadi
Penulis
Naskah : Lele Laila dan Ferry
Lesmana
Produser : Dian Sasmita Faisal
Produksi : PICHOUSE Films dan MD
Pictures
Pemain :
- Prilly Latuconsina
sebagai Risa remaja
- Sandrinna Michelle
sebagai Riri
- Shareefa Daanish sebagai
Asih
- Asha Kenyeri Bermudez
sebagai Risa kecil
- Indra Brotolaras sebagai
Andri
- Inggrid Widjanarko
sebagai Nenek
- Kinaryosih sebagai Eli
(Ibu Risa)
- Wesley Andrew sebagai
William
- Kevin Bzezovski Taroreh
sebagai Janshen
- Gamaharitz sebagai Peter
- Aline Aditia sebagai
Psikolog
- Jose Rizal Manua sebagai
Asep
Namaku Risa. Aku bisa
melihat “mereka”. Dan “mereka”, sesungguhnya, hanya butuh didengar.
Ketika penciumanku
tertutup, sedangkan mata hati terbuka lebar untuk mereka yang biasa kalian
sebut. Hantu.
Di penghujung bulan Maret tepatnya pada Kamis, 30 Maret
2017, bioskop Indonesia kembali kedatangan film
horor yang siap menghantui, kali ini berjudul Danur. Sebenarnya apakah
arti kata Danur? Danur adalah cairan yang keluar dari jenazah yang sudah
membusuk.
Danur, tidak seperti film horor Indonesia yang kerap
menampilkan adegan-adegan mesum didalamnya. Film garapan sutradara Awi Suryadi ini
mengambil tagline I Can See Ghosts yang mempresentasikan kisah misteri dibalik
filmnya. Meskipun mengambil genre horor, kenyataannya film ini berkisah tentang
perjalanan seorang anak indigo yang memiliki kemampuan istimewa dapat melihat
makhluk-makhluk astral tak kasat mata.
Kisah Danur diadaptasi dari buku karangan Risa Saraswati
berjudul Gerbang Dialog Danur. Cerita dalam bukunya merupakan pengalaman
pribadi Risa yang sejak kecil memiliki kemampuan bisa melihat hantu dan memang
sudah tidak asing melihat hal-hal berbau mistis. Bahkan, ia memiliki
teman-teman hantu yang pada akhirnya menjadi sumber inspirasinya menulis buku.
Dibuka dengan adegan ulang tahun Risa. Risa, sejak kecil
sering ditinggal bersama pengurus rumahnya. Ayahnya bekerja di luar negeri. Dan
ibunya bekerja sebagai pegawai negeri sipil harus membagi waktu untuk menjaga
neneknya yang berada di rumah sakit. Risa kerap merasa kesepian. Di hari ulang
tahunnya yang ke-8, Risa (Asha Kenyeri Bermudez) meniup lilin di kuenya: Aku
ingin punya teman. Tak disangka, permintaannya dikabulkan. Disaat itulah Peter
(Gamaharitz), William (Wesley Andrew), dan Janshen (Kevin Bzezovski Taroreh)
datang. Kehadiran mereka membuat hari-hari Risa berwarna. Kesepian yang dirasakan
oleh Risa pun berlalu. Kala itu Risa bersama dengan teman-teman tak kasat
matanya sedang bermain petak umpat. Sejak saat itu, Sang ibu mendapatkan Risa
berbicara sendiri, menemukan coret-coretan di lantai, dan bermain congklak
entah dengan siapa. Risa digambarkan sedang bermain petak umpat hingga
berlarian. Dalam satu adegan, ketiga temannya meminta Risa untuk tidak datang
ke pohon terlarang, berupa pohon beringin yang menjadi kunci cerita film ini.
Eli, sang ibu (Kinaryosih) yang sedang hamil lima bulan
memanggil psikolog bernama Sinta (Aline Aditya) dan menemukan bahwa itu bukan
urusan psikologi. Lalu, Eli akhirnya memanggil seorang ‘pintar’ bernama Asep
(Jose Rizal Manua) menemukan bakat lain dari Risa, bisa melihat hantu. Asep
menyadarkan Risa tentang Danur dan memperlihatkan wujud asli dari ketiga teman
hantu anak Belanda yang ternyata sangat menyeramkan. Sejak itu, Risa tidak
bertemu lagi dengan ketiga teman tak kasat matanya. Ia ikut keluarganya pindah
meninggalkan rumah neneknya.
Setelah 9 tahun, Risa yang sudah beranjak dewasa (Prilly
Latuconsina) diceritakan kembali ke rumah neneknya, rumah yang mempertemukannya
dengan sahabat-sahabat tak kasat mata. Di rumah tersebut ada sepupu Risa yang
bernama Andri (Indra Brotolaras). Risa berniat untuk mengurus neneknya (Inggrid
Widjanarko) yang sakit bersama adiknya yang bernama Riri (Sandrinna Michelle) harus
terganggu oleh kejadian-kejadian aneh bersamaan dengan kemunculan si pembantu
misterius bernama Asih (Shareefa Daanish). Tak disangka, nasib nahas menimpanya.
Saat Risa menjaga sang nenek, Riri malah diculik oleh hantu perempuan yang
menyamar sebagai pembantu di rumah neneknya, Asih.
Bimbang tak tahu harus berbuat apa, akhirnya Risa memanggil
teman-teman tak kasat matanya dengan sebuah tembang ikonik yang dahulu kerap
didendangkannya saat masih bermain bersama teman-teman hantunya. Konon, lagu
berbahasa sunda ini merupakan lagu yang bisa memanggil arwah-arwah temannya.
Danur; adalah film bergenre horor yang unik dengan membawa
pesan mendalam untuk penontonnya. Dan dari film ini pula, kita, sebagai manusia
yang masih memiliki nyawa dapat mengetahui bagaimana rasanya jika memiliki
kemampuan indera keenam.
Sayangnya, dalam film ini terlalu banyak jump scares, alih-alih membuat penonton takut,
adegan yang tersaji justru malah membuat kaget karena iringan musiknya yang
tiba-tiba mengencang sehingga menyebabkan feel
dari film ini terasa kurang, terlebih lagi durasi yang hanya sekitar 78 menit. Awi
pun meminjam formula dari film-film Hollywood seperti Insidious dan The
Conjuring. Kalau kamu sudah pernah menonton filmnya, kamu pasti akan menyadari
dan hafal betul adegan-adegan mana saja yang berhasil dicuplik dari dua film
horor populer tersebut.
Terdapat beberapa perbedaan antara yang ada di buku dengan di
film, beberapa diantaranya adalah alur ketika Risa berpisah dengan teman-teman
tak kasat matanya terlalu cepat, Riri diculik oleh Asih, dan pertemuan kembali
antara Risa dengan teman-teman tak kasat matanya jika dalam buku itu ketika
Risa sedang rekaman lagu ‘Story Of Peter’ tetapi pada film adalah ketika Risa
membutuhkan bantuan teman-teman tak kasat matanya untuk menyelamatkan Riri yang
diculik oleh Asih.
Buku Danur lebih orisinil dibandingkan dengan yang ada di
film. Tapi, meskipun begitu, penulis yakin bahwa Danur akan menjadi film horor
dengan penonton terbanyak di Indonesia. Dapat diketahui, kini Danur sudah ditonton
oleh 1 juta lebih penonton dan berhasil mendapatkan rekor MURI.
Kekurangan lainnya adalah hanya ada Peter, Will, dan Janshen
dalam film ini, padahal dalam bukunya ada dua teman tak kasat matanya Risa
yaitu Hans dan Hendrick. Menurut penulis, akan ada Danur 2 yang menampilkan
sosok Hans dan Hendrick. Danur berhasil membangun image baru perfilman horor Indonesia sehingga film ini sayang
sekali untuk dilewatkan begitu saja. Apalagi buat kamu penggemar bukunya yang
sudah kadung penasaran melihat sosok sahabat-sahabat hantu Risa Saraswati.
Penulis menunggu buku-buku Risa selanjutnya yang akan dijadikan film seperti
Danur.
Film ini membawa pesan yang mendalam di awal cerita. Kelak
ketika menjadi orang tua, temanilah sang anak agar ia tak merasa sendirian
(tanpa teman) dan kesepian, karena hal tersebut dapat mempengaruhi kehidupan
sosial sang anak. Ada hal yang lebih penting daripada terlalu sibuk pada
pekerjaan atau mengejar uang sampai harus mengorbankan keharmonisan keluarga,
hal yang lebih penting tersebut adalah selalu berada di sisi sang anak sampai
ia tumbuh menjadi sosok dewasa yang penuh kasih sayang dan cinta dari kedua
orangtuanya.
Tonton Danur di bioskop kesayangan Anda!
Ingat, jangan nonton sendirian! (Laili Octadianti)
sumber gambar: kapanlagi.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar