By : Poni
Bedug maghrib bergema se-antero penjuru sudut kampung. Matahari
tenggelam yang sering disebut senja itu masih menghiasi langit di ufuk barat. Rerumputan
yang sejajar tingginya dengan padi yang menguning milik petani kini sedang berayun-ayun
ditiup angin yang datang dari laut. Dalam
beberapa menit ke depan potret human
interest yang beraktivitas di sudut kampung akan lenyap, disebabkan oleh kebiasaan penduduk sekitar yang
mempersepsikan bahwa ketika hari berganti malam maka waktu istirahat telah tiba.
Anak-anak pun digiring masuk ke rumah oleh orang tua masing-masing,
kesibukan itu bereaksi seperkian detik saat teriakan ibu atau kakak perempuan
dari anak-anak itu menyeruak menyuruh mereka untuk segera pulang. Biasanya
sehabis itu anak-anak akan berhamburan untuk kembali pada tempat ternyaman mereka
bersemayam di malam hari bersama sanak keluarga. Rumah.
Di trotoar jalan ditemani bebatuan krikil yang tersebar di
sepanjang jalan ini aku dan satu laki-laki -yang sudah kuterima menjadi
pendamping hidup- berjalan gontai. Sebetulnya,
tidak teramat lelah juga langkahku karena aku keasikan mengambil potret
kampung ini. Sementara suamiku itu terus saja bergerutu sebab ia terdampar di
perkampungan ini, "Macam kambing saja mereka diperlakukan." ketus Alvin
-suamiku- yang memakai setelan pantai.
Aku menengok ke samping kiriku, sedikit tidak setuju, "Bedalah
mas, anak-anak itu cukup di arahkan
sekali saja dan mereka langsung menurut.
Tidak sama dengan kambing yang harus dipukul dulu baru berjalan." belaku sembari
beralih kepada kamera slr yang mengalung di leherku.
"Tau apa kamu tentang mereka? Kampung ini asing buat kamu
dan kamu gak tau apa apa." kesalnya,
mungkin karena kami tak kunjung menemukan pertolongan.
Aku tersenyum, "Mas, potret kampung itu sama saja. Kamu
yang berbeda dengan mereka, karena kamu terlahir di kota." sahutku kembali
membela kampung ini.
"Kamu kok bela mereka Del," singgung Alvin mengerutkan
dahinya.
"Kali-kali aku bela mereka, mas, karena
aku juga kan gak sering main ke kampung gini,
hehe."
Alvin mendengus mendengar jawabanku karena biasanya aku selalu
menurut dan sepakat atas perkataannya. "Kamu kenapa sih? Aku capek ah, mau duduk bentar!" tanya Alvin di awal,
sebelum ia mengeluh di akhir kalimatnya.
Alvin duduk. Aku tak ikutan,
ia menengadah, "Kamu gak
capek? Sini duduk.." seru Alvin.
Aku membuang nafas sembari meletakan tangan di pinggang
-bertolak pinggang, "Jadi, kamu mau disamakan kaya kambing ya mas? Dipukul
dulu baru jalan. Ayo lanjut masa baru jalan satu kilo meter saja udah capek. Payah!" ledekku.
"Delfi..." panggil Alvin setengah bergumam. "Kita
itu korban karena jalanan terjal yang gak diaspal kaya gini nih, mobil kita juga mati karena ada jalanan bolong
di sana tadi. Kemana sih uang otonomi daerahnya? Bukannya bangun jalanan yang bagus.
Jadi, nyusahin orang kan!" katanya kesal
sendiri, aku terkekeh, lucu sekali melihatnya.
Alvin bukannya menjawab, ia malah menatapku lekat, sesekali membuang nafas dalam-dalam. Aku
berfikir di sela-sela itu, apakah aku
salah bicara? Apakah Alvin tidak suka caraku bersikap saat ini? Alvin kelihatan
marah, deh.
"Sikap kita kenapa jadi terbalik gini, sih? Biasanya aku
yang dewasa, tegas, dan benar." herannya menerka-nerka.
Aku tertawa, "Kenapa? Kamu suka ya aku begini?"
"Aku jadi tahu,
bagaimana kamu sangat mengagumiku selama ini? Ternyata aku keren, haha." katanya mulai melentur, "Aku kaya ngaca deh jadinya, hehe.."
tambah Alvin.
"Aku jadi tahu juga,
bagaimana pedulinya kamu untuk selalu melindungiku, karena selama ini aku terlalu gemas dan lucu
kan?" sahutku terkekeh, "Aku bahagia deh hari ini walaupun capek, mas." kataku lagi.
"Kita harus saling mengerti ya Del,"
"Iya mas, makasih ya selama ini selalu mengerti aku."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar