Meneropong Adat Lokal - LPM FatsOeN

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Meneropong Adat Lokal

Share This

Terbitnya buku Sebelas Kunang-kunang
merupakan salah satu bentuk
perkembangan dunia sastra di Indonesia.
Buku kumpulan cerpen ini merupakan
karya pilihan terbaik hasil perlombaan
cerpen remaja 2015 oleh penerbit Oase
Pustaka. Sebanyak 13 penulis menghiasi
penceritaan dalam buku dengan jumlah
15 cerpen ini. Sebelas Kunang-kunang
adalah judul cerpen sekaligus menjadi
judul buku yang diambil selain Edelweis,
Gadis-gadis Pegunungan, Hati-hati den-
gan Hati, Kemarau Bercerita, Lotus, Op-
erasi Burung Camar, Perkara Mencintai
Senja, Perkawinan Sasuku, Pesona Cinta
di Bumi Moskow, Punah, Sepenggal
Kisah dari Sebatang Pohon, Serat Pirus,
Tangisan Bayi di Rumah Pojok.
Berbagai spesifikasi tema yang ber-
beda tersaji dalam buku ini, mulai dari
percintaan, politik, alam, religi, bahkan
keadaan sosial yang marak dan popular
saat ini. Kisah pemilik batu akik mis-
alnya, judul Serat Pirus karya Lenang
Manggala ini menceritakan seorang yang
sudah lama mengakrabi kemiskinannya.
Ia menyadari batu akik yang dimilikinya
memiliki nilai jual tinggi. Namun setelah
akan ada yang membeli batunya, ternya-
ta serat pirus tersebut palsu.
Selain dari sisi tema dan alur, riset
juga merupakan nilai modal dari ke-
matangan sebuah tulisan. Meski hanya
sebuah fiksi, adanya pencerahan baik
mengambil dari segi sains atau lainnya
dapat membantu pemikiran kebiasaan
orang zaman dulu (baca: awam). Dalam
Sebelas Kunang-kunang menceritakan
pemuda pintar yang mengubah pandan-
gan bahwa kunang-kunang merupakan
jelmaan dari kuku manusia yang telah
meninggal. Pemikiran di luar logika
tersebut dapat terjawab dari segi pene-
muan ilmiah.

Begitu juga dengan cerpen Operasi Bu-
rung Camar karya Petrick Joel Tirta. Kita
simak penggalan kutipan ini. Kode oprasi
kalian saat ini adalah burung camar. Kalian
akan diberangkatkan menggunakan C-17
Globemaster, dan diterjunkan di Samudera
Atlantik,beserta hovercraft ber-EMP yang
dibutuhkan. Untuk pelengkap kalian akan
mendapatkan 4 M4A1 dengan peredam,
lensa pembesar, dan M203 peluncur granat.
Bisa dilihat, ternyata riset suatu data
pengetahuan akan memperkaya suatu
tulisan. Dalam cerita tersebut strategi
perang yang dilakukan pun sekiranya
butuh suatu pengalaman, pengetahuan.
Tapi penulis sukses menggambarkannya
melalui tulisan.

Satu cerpen yang rata-rata terdiri dari
lima halaman ini membuat pembaca
penasaran untuk melihat ending-nya.
Upaya teknik penceritaan pun begitu
beragam dan hampir tersaji begitu segar.
Beberapa cerpen-cerpen dalam buku
ini begitu dekat dengan penggambaran
deskripsi lokal atau suatu daerah/kam-
pung yang memiliki aturan adat. Dalam
Perkawinan Sasuku, dimana sepasang
kekasih sudah saling mencintai tetapi
tidak diperbolehkan menikah dikare-
nakan masih dalam satu suku. Hal
serupa dalam Gadis-gadis Pegunungan,
menceritakan perempuan yang masih di
bawah umur dinikahi oleh lelaki yang
berbeda jauh dari usianya

. Suatu tam paran memilukan, kesedihan, bahkankekesalan akan hadir kepada pemba-
ca ketika membaca cerpen-cerpen ini.
Pelindungan diri dari suatu keadaan
yang hanya bisa dipendalam dalam hati.
Seperti penggalan kalimat dalam cerpen
Gadis-gadis Pegunungan ini, Terkadang tr-
adisi dapat memakan segalanya dan seorang
yang berakal busuk dapat bersembunyi di
balik tradisi.
Ketika membaca buku ini pembaca
pasti menemukan kesadaran baru pada-
hal kejadian tersebut pasti terjadi dalam
kehidipan kita sehari-hari. Kata-kata
yang digunakan pun begitu sederhana.
Para penulis remaja ini sangat mema-
hami keadaan. Cerita yang disuguhkan
adalah bentuk suatu kepedulian terha-
dap lingkungannya. Jadi, bukan hanya
berkisah masa keremajaan yang berkait
erat dekat dengan percintaan. Seperti
yang dikatakan tadi; bentuk kepedulian
sosial dan lingkungan membuat cerpen
ini bisa dibaca oleh semua umur. Dib-
umbui dengan pesan moral yang begitu
kental.
Meski pesan moral dalam sebuah
cerpen merupakan hal yang penting, tapi
bukan berarti harus terjabak dalam suatu
penceritaan. Dan inilah mungkin yang
harus dikritisi. Misalnya, saya ambil
pada cerpen Pesona Cinta di Bumi Mos-
kow. Cerpen ini berkisah seorang ihwan
Indonesia yang tengah melaksanakan
penelitian di kota Moskow. Ia bertemu
perempuan atheis. Baru mulai membaca
cerpen ini mengingatkan pada novel
yang ditulis Habiburrahman El-Shira-
zy berjudul Bumi Cinta. Jadi, cerpen ini
ending-nya mudah ditebak. Dan benar
saja, timbullah keyakinan dan rasa cinta
antara keduanya.

Baiklah, pesan moral yang diangkat
memang luar biasa, tapi lebih baik lagi
perlu ada pengemasan secara teknik
penceritaan, karena kesegaran suatu
penceritaan, tema, alur bahkan kata-kata
adalah hal yang penting sebagai suatu
kreatifitas. Tidak terjebak pada tema dan
teknik yang begitu monoton. (Ari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages