Berkarya melalui tulisan sudah men-
jadi aktivitas wajib yang dijalani
oleh kita sebagai insan akademis. Coba
ingat-ingat dan hitung-hitung! Berapa
makalah yang pernah teman-teman
susun semenjak menjadi mahasiswa?
Tentu sudah banyak, terlepas ukuran
banyak bagi masing-masing orang mun-
gkin beda-beda, paling tidak lebih dari
dua. Selama ini, sebagian besar dari kita
mungkin tidak terlalu mempermasalah-
kan pembuatan makalah, karena tugas
kita hanya mengutip beberapa referensi
dan mengolahnya berikut analisis kita
sebagai penyusun. Bahkan, bagi sebagian
mahasiswa lebih memilih copy-paste dari
makalah-makalah yang ada di internet.
Soal konsekuensi, itu menyesuaikan
dengan karakter masing-masing dosen,
karena beberapa dosen mungkin tidak
terlalu mempermasalahkan validitas
suatu makalah. Intinya, selama ini kita
belum mengalami masalah yang berarti
dalam membuat makalah, yang merupa-
kan salah satu bentuk karya ilmiah.
Ketika awal masuk dunia perkuliah-
an, setiap dosen pasti memberikan arah-
an bagaimana cara menyusun makalah.
Dari setiap arahan yang diberikan oleh
setiap dosen kadang ada perbedaan.
Pada saat itu, kita dibingungkan dengan
arahan yang berbeda-beda. Beberapa
dosen menilai dan mengevaluasi maka-
lah yang kita buat, dan ada juga yang
membiarkan saja entah makalah kita su-
dah benar atau belum, yang penting ada
makalah dan isinya bisa digunakan un-
tuk presentasi. Dalam makalah, kadang
sebagian mahasiswa tidak memberikan
kejelasan sumber rujukan atau malah
sekedar menjiplak tanpa menyebutkan
sumbernya, padahal validitas sumber ru-
jukan yang kita ambil merupakan salah
satu aspek terpenting dalam penyusunan
karya ilmiah.
Keterbukaan informasi di internet
menjadi salah satu tantangan besar
dalam penulisan karya ilmiah. Dari
sekian banyak informasi khususnya yang
berkaitan dengan materi perkuliahan
hanya membuat mahasiswa malas untuk
menyusun makalah dengan benar. Den-
gan komposisi informasi yang sangat
banyak, mengundang mahasiswa untuk
memilihnya ketimbang harus mencari
buku-buku di perpustakaan yang belum
tentu ada. Sebenarnya keterbukaan infor-
masi dan ilmu di internet bisa menjadi
sangat berguna ketika kita menggu-
nakannya dengan baik tanpa menyiasat-
inya untuk mengaku-akui karya orang
lain yang akan menjerumuskan kita pada
plagiarisme.
Menurut Indrya Mulyaningsih, dosen
yang konsen dalam bidang Pendidikan
Bahasa Indonesia, plagiasi berasal dari
kata plagiat, artinya sama dengan dup-
likat, mengambil atau mengambil persis
karya orang lain. Plagiat itu ada dua,
yakni bisa berupa ide dan bisa berupa
pernyataan persis. Ketika seseorang
menulis, kemudian ia mendapatkan
ide dari kolaborasi banyak ide, maka
ide tersebut adalah ide si penulis yang
didapatkan dari kolaborasi ide-ide,
yang berarti itu tidak plagiat. Ketika
seorang penulis mempunyai ide yang
berasal dari satu orang, kemudian ia
tidak mencantumkannya sebagai sumber
inspirasinya, maka itu yang dinamakan
plagiat.
Sebagai mahasiswa kita sering
mendapat ide dari diskusi-diskusi dan
obrolan-obrolan santai sambil ngopi atau
ngerumpi, yang nantinya menjadi bahan
dalam menulis sebuah karya ilmiah.
Sebagaimana dikatakan oleh Indrya, hal
tersebut bukan termasuk dari plagiasi,
karena sesuatu dianggap plagiasi ketika
ada didalam karya ilmiah yang terdapat
hitam diatas putih di dalamnya. Meski-
pun diskusi itu ilmiah, tetapi apabila ti-
dak terdokumentasikan itu masih belum
dikatakan plagiasi karena masih bisa
diedit. Berbeda jika hal itu sudah tertu-
lis hitam di atas putih, dipresentasikan,
yang digunakan itu bukanlah peristiwa
presentasinya tetapi lebih ke tulisannya.
Kalau di dalam diskusi, ketika orang
hanya mengatakan “menurut yang saya
tahu”, bahkan sampai ia mengaku-aku
sebuah ide milik seseorang tetapi hal itu
akan selesai setelah diskusi itu selesai
pula. Mengapa plagiat hanya terjadi
ketika ada hitam di atas putih? Hal itu
dikarenakan bisa dibaca setiap saat, se-
dangkan diskusi hanya pada saat diskusi
saja, tetapi diskusinya itu bukanlah di-
skusi yang forum formal seperti seminar,
akan tetapi diskusi yang sekedar ngo-
brol-ngobrol biasa saja.
Bentuk plagiasi ada dua macam, yak-
ni plagiasi tersirat dan tersurat. Plagiasi
yang tersirat, itu yang berupa kutipan
tak langsung. Bentuknya, yang diambil
hanya idenya, tidak dengan kata-katan-
ya. Kemudian ada plagiasi jenis yang
kedua, yakni plagiasi tersurat, mengam-
bil ide plus kalimatnya dan kata-katan-
ya pun persis dengan yang ditirunya,
inilah yang sebenarnya disebut kutipan
langsung. Nah, teman-teman harus pa-
ham betul dengan kedua bentuk plagiasi
ini, bukan agar menjadi plagiat lho, tetapi
untuk menjauhkan diri dari lembah
plagiarisme.
Dari sekian banyak manusia, tidak
menutup kemungkinan ada persamaan
pemikiran antara satu orang dengan
yang lainnya. Tidak menutup kemun-
gkinan ide yang kita keluarkan tanpa
kita sadari sama dengan tokoh, ahli
atau ilmuwan yang sudah ada. Nah,
bagaimana jika demikian? Apakah kita
akan dituding sebagai plagiat atau tidak?
|
Menurut Indrya, sangat memungkinkan
bahwa itu memang dianggap plagiat dan
juga bisa saja dianggap tidak. Kembali
kepada bagaimana alasannya, selama
kita bisa menjelaskannya dan memang
itu ide kita pribadi, tidak masalah. Ha-
nya yang menjadi permasalahan, ketika
ditanya ia tidak bisa menjelaskan yang
ujung-ujungnya nanti malah berkata
“saya pernah mendengar…” ataupun “saya
pernah membaca…”, kemudian ia tidak
mencantumkan sumbernya, maka itu
sudah plagiat.
Jadi, selama itu masih
bisa dipertanggungjawabkan, ada bukti,
data dan fakta memang itu ide pribadi,
itu tidak masalah. Untuk mengetahui
keaslian karya tulis juga bisa dilihat dari
kapasitas keilmuan si penulis. Serupa
jika ada seseorang yang biasanya menu-
lis dengan panjang lebar, yang kemudian
dalam jangka pendek ia dapat membuat
tulisan yang singkat dan rapih, maka itu
perlu dipertanyakan.
Bagi teman-teman yang hendak
menggunakan rujukan berbahasa asing
seperti bahasa Arab dari aplikasi atau
dari jurnal-jurnal, mungkin ada yang
bertanya bagaimana cara menggunakan-
nya agar terhindar dari plagiarisme.
Sebagian mahasiswa menggunakan
aplikasi berbahasa Arab untuk memper-
mudah dalam pengetikan, yakni dengan
copy-paste. Nah, untuk yang satu ini pun
ada aturannya. Menurut Indrya, men-
yalin teks bahasa Asing tidak masalah
selama dituliskan sumbernya dari mana,
misalnya hadits diambil dari Maktabah
Syamilah, maka harus dicantumkan
halaman, versi berapa dan tahun berapa,
mengingat aplikasi tidak mustahil luput
dari salah ketik atau tulisan. Satu lagi
yang harus dicantumkan sumber refer-
ensi selain aplikasi, yakni buku aslinya.
Jadi, peran aplikasi hanya untuk mem-
permudah dalam pengetikan. Menyebut-
kan referensi aplikasi dan buku aslinya
memang cara yang paling aman untuk
menghindari plagiasi.
Menurut Indrya, pada prinsipnya
ada dua hal untuk menghindari plagiasi,
yakni jujur dan jangan malas. Hal-hal
yang ada dalam dunia tulisan ilmiah itu
berkaitan dengan kejujuran diri. Seorang
ilmuan itu harus jujur, karena ini berada
dalam ranah intelektual, dan orang-
orang intelektual itu cenderung orang-
orang yang ilmiah, artinya apa yang ia
tuliskan itu terbukti bisa dibuktikan,
objektif dan bukan subjektif. Kemudian
jika ia sudah sesuai dengan hal-hal terse-
but, mau tidak mau ia harus jujur, mana
yang hasil pemikirannya dan mana yang
bukan. Ketika ada yang mengatakan
“ini bukan plagiarisme, karena ini sudah
saya parafrasakan”, nah hal ini kembali
kepada kejujuran diri masing-masing.
Memang ada alat yang dapat mendetek-
si hal semacam itu, tetapi alat tersebut
belum dapat membedakan mana kutipan
langsung dan parafrasa. Alat ini hanya
bisa menangkap jika terdapat beberapa
kata dalam satu kalimat yang persis
dengan kalimat yang ada dalam suatu
laman. Apabila hal tersebut terjadi maka
ini dianggap plagiarisme, jika ia tidak
mencantumkan darimana sumbernya,
yang bisa dilihat di catatan kaki, catatan
dalam ataupun di daftar pustakanya.
Kedua, jangan malas! Kebanyakan para
pelaku plagiarisme itu karena malas,
malas membaca, malas mencari tahu.
Padahal sumber daya manusia itu sangat
luar biasa, tapi kalau sudah kena yang
namanya penyakit, satu tidak jujur
kemudian malas, itu yang merusak
kualitas sumber daya manusia yang luar
biasa.
Dalam upaya mencegah dan member-
antas plagiarisme, sebenarnya siapa saja
sih yang harus terlibat? Menurut Indrya,
peran utama untuk menghindari plagia-
risme yaitu diri sendiri. Sebagaimana
dengan upaya yang telah disebutkan
sebelumnya, yakni jujur dan tidak malas.
Di samping itu, ada juga peranan dari
luar diri sendiri, yaitu guru pembimb-
ing atau dosen pembimbing. Misalnya
dalam penyusunan skripsi, peran guru
pembimbing di situ sangat membantu.
Namun, bagaimana jika dalam penyusu-
nan tersebut ada mahasiswa yang menu-
lis dengan menyadur dan entah sengaja
atau tidak sengaja tanpa menuliskan
sumbernya sehingga berindikasi sebagai
plagiasi, namun guru pembimbing tetap
meloloskan mahasiswa tersebut? Terk-
adang guru pembimbing memang ada
yang benar-benar tidak tahu dan ada
juga yang tidak mau tahu, atau ada yang
tahu tetapi membiarkan saja kesalahan
itu. Maka dari itu, kembali lagi ke peran
diri sendiri, karena diri sendirilah yang
menentukan kemana arah kita.
Nah, seperti itulah plagiarisme dan
cara untuk menghindarinya. Khusus
bagi teman-teman yang masih sibuk
dengan makalah-makalah dan belum
mulai menyusun skripsi, silahkan gu-
nakan tugas-tugas yang berupa makalah
itu menjadi salah satu media latihan
dalam penulisan karya tulis ilmiah
dengan benar. Sedikit demi sedikit,
ikutilah peraturan mainnya. Karena,
banyak mahasiswa yang kaget ketika
disuruh membuat makalah yang benar
oleh dosen pengampu mata kuliah yang
berkaitan dengan karya tulis ilmiah atau
mata kuliah metode penelitian, terlebih
ketika hendak menyusun skripsi, karena
saat itu kita benar-benar dituntut un-
tuk menulis dengan benar. Masalahnya
adalah seperti tadi, selama mengerjakan
tugas-tugas makalahnya, banyak yang
mengerjakannya asal jadi dan tanpa
mengikuti aturan mainnya. (Dede, Yoga,
Eka) |
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSelamat...!
BalasHapusTulisannya bagus. Tolong untuk tulisan berikutnya, tata kalimat lebih diperhatikan.
Salam sukses selalu...