Pertemuan ke Tiga - LPM FatsOeN

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Pertemuan ke Tiga

Share This
  Semangat terasa memudar usai beber apa kali
gagal menyusun skiripsiku - yang tak kunjung menemui titik akhir.Lelah tak lagi jadi hal baru. Siang malam berada di depan komputer, mengetik rangkaian kata namun belum juga memuaskan dosen  pembimbing.

  Rumah kini menjadi tempat menjemukan. Hal apa lagi yang akan kulakukan di sana bila bukan mengetik. Sedangkan, materi untuk ditulis saja belum jua didapat.

  Matahari mulai menyorot bumi
dengan tajam, seolah ikut menuding
kesalahanku seperti Pak Burhan yang
kerjaannya hanya bisa mengkritik. Tapi,
tak pernah ia memberi tahu dimana letak
salahnya.
“SIALAN!!!” tak sengaja kakiku
mengijak lumpur kala berjalan di taman.
Angin di taman belakang kampus ini
memang khas, selalu menyejukan, sangat cocok untuk menenangkan pikiran.
Tak heran bila banyak mahasiswa yang
memilih tempat ini untuk melepas penat,
atau hanya sekedar duduk-duduk, mengobrol, bahkan ada yang bermesraan.
Tapi, tak perlu khawatir, taman ini masih
cukup luas untuk dinikmati bersama.
Tibalah aku pada sebuah pohon rindang yang biasa kujadikan markas pribadiku. Di bawah pohon itulah tempatku
tertidur, entah apa yang membuatnya
begitu istimewa. Mungkin juga karena
letaknya yang jauh dari keramaian hingga aku bisa benar-benar merasa tenang.
Kurebahkan tubuhku di atas rumput,
hingga semilir angin yang berhembus
menemani mata ini untuk terpejam.
Sungguh ini baru namanya hidup.
Sekejap aku tertidur dengan nyenyak,
entah mimpi atau bukan tapi ini seolah
nyata. Seorang gadis terlihat sedang berlari mengejar sesuatu, wajahnya bersinar
hingga kilauannya membuat mata ini sulit untuk terbuka lebar. Dia mengenakan
baju berwarna merah serta kerudung
dengan warna yang sama, menjulur menutupi tubuhnya dengan rok biru yang
menawan. Siapapun dia, yang kutahu
hanya dia yang telah membuat hatiku
terpaut padanya.
Lamat-lamat gadis cantik itu semakin mendekat. Keindahan dari paras
ayunya benar-benar menarik hati. Aku
masih diam tak bergeming menatapnya.
Sudut bibir pun mulai tertarik saling
menjauh perlahan hingga menyunggingkan sebuah senyum yang gemetar.
Aku masih membisu, lidah ini mulai
kelu di hadapannya. Dia mulai berlutut di sampingku. Wajahnya semakin
mendekat, sedang aku masih berbaring di atas rumput. Dia mengulurkan
tangannya seolah ingin membelai wajah
ini. Perlahan jemarinya semakin terlihat
nyata. Dengan begitu hati-hati tangan
itu menjulur hingga akhirnya mendarat
tepat di hidungku dengan tamparan
keras, membuat aku terperanjat dan
terbangun.
“Aw! Lo kira gak sakit apa?” keluhku.
Gadis itu terus menatap kupu-kupu
yang terbang menjauh pergi meninggalkannya. “Yah, terbang deh,” ucapnya
kecewa.
“Oh, jadi cuma gara-gara kupu-kupu
itu lo sampai nampar gue.” dengusku
yang tak di hiraukanya. Perlahan dia
beranjak pergi tanpa merasa bersalah.
“Eh, tunggu, mau kemana lo?” pekikku
Pertemuan ke Tiga
dengan sigap menarik tangannya melarang gadis itu pergi.
Dia berbalik dengan tatapan aneh
menatapku yang masih terduduk. Dahinya mengerut, begitu juga kedua alis
matanya yang mulai beradu. “Maaf kita
bukan mukhrim,” ujarnya sambil menarik tangan yang masih kugenggam. Gadis
itu pun pergi.
Aku masih termenung dengan mulut
menganga. “Kok jadi dia yang marah”
gumamku kebingungan. Rasanya baru
beberapa menit lalu aku tertidur, namun
arloji yang kukenakan sudah memaksa
untuk pulang. Kembali ke istana megah
yang mati oleh sepi, namun dengan sedikit sentuhan rasa bahagia karena gadis
aneh yang muncul tiba-tiba itu.
Dalam perjalanan pulang honda
Jazz hitam mengkilap yang kukendarai
berhenti mendadak. Dari kolong langit kuselidiki bagian terdalam mesin
mobil, berjam-jam lamanya kugeluti
kabel-kabel yang melilit rumit itu. “Ahh,
BRENGSEK!” memang aku kurang ahli
dalam otomotif.
Kucuran keringat yang membasahi
pundakku terabaikan, padahal sang
surya kala itu menjalankan tugasnya
dengan sempurna tepat di ubun-ubunku.
Peraduan lembah sugesti telah menyayatkanku pada kata “Pasrah”. Kuputuskan untuk menyusuri jalanan aspal
yang kurang bersahabat, celah-celahnya
membuatku kesulitan saat melewatinya,
dengan keringat yang terus menembus
pori-pori bajuku.
Seperti berminggu-minggu rasanya
kutapakan kaki ini ke dermaga hitam
sambil menatap sepanjang tepian jalan,
mencari tempat perbaikan kabel-kabel di
mesin bagian dalam honda Jazz-ku yang
entah dimana rusaknya. Sebuah kaleng
bekas minuman yang tergeletak di depan
perawakanku, seolah meledek pejalan
kaki sepertiku. Kupandangi sesaat lalu
kuayunkan kaki serentak menendangnya
keras-keras tanpa melihat sekelilingku.
“Astagfirullah!” terdengar suara
perempuan yang meraung kesakitan dari
arah kaleng yang kutending tadi. Sempat
berpikir melarikan diri tapi tak kuasanya
hati ini berontak ingin menolongnya. Tak
salah lagi itu karena kaleng bekas yang
kuenyahkan dari hadapanku beberapa
detik yang lalu. Perlahan-lahan kudekati tubuhnya yang sedang mematung
sejenak sambil memegangi kepalanya.
Terselip pertanyaan yang lamat-lamat
jelas mencuat di benakku “Ya benar!
Perempuan di taman belakang kampus”
terkejut bukan mainnya.

Dengan ragu aku meminta maaf
dengan memastikan bahwa itu adalah benar-benar dia. Dia yang berada
di belakang kampus, tepatnya taman.
“Ya, taman…” adalah saksi bisu awal
mula aku dipertemukan dengan segala
pertanyaan yang sempat tersimpan di
dalam benak. “Ah ada apa ini kenapa
saya semakin penasaran dengan gadi
sini”. Lalu ia langsung pergi melaluiku
tanpa sepatah katapun dan tanpa melirik
keberadaanku yang saat itu amat berantusias meminta maaf. “Padahal waktu di taman dia tidak meminta maaf maupun
sekedar permisi karena telah mengganggu tidur siangku.”

Siang itu merupakan pertemuan
keduaku dengan gadis berkrudung merah semanjak dari kejadian di kampus.
“Aneh juga, baru sekarang-sekarang ini
saya memperhatikan perempuan dengan seksama,” gumamku menyeloteh
di tepian jalan dengan hasil nihil tidak
menemukan satu bengkel pun.
Perempuan itu melaluiku dengan
senyum tipis di kedua bibirnya, tanpa
berucap apa-apa. “Serius dia benar-benar memubatku ingin tahu lebih dalam,
apapun masalahnya, dan sedikit mengambil hatiku karena senyum tipisnya
tadi,” celotehku sambil melihat kaleng
yang seperti melirikku dan perempuan
itu dengan dengus asmara yang kini
mulai tumbuh.
“Mbak, tau bengkel daerah sini gak?”
kucoba membuka suara dengan nada dikeraskan karena ia hendak jauh, barangkali ia mau menjawab.
Setelah kuperhatikan, ia sedikit
berpikir, kemudian ia mangguk-magguk dan tangannya mengatakan, “itu
di sana.” Keaadaan ini apaakah terus
seperti ini, hanya saja aku masih bingung
padanya yang sedikit bicara itu. “Ah,
mungkin dia pemalu,” gumamku menggeliat sedari tadi.
Dia berjalan tepat di depanku, berjalan satu arah saat ingin menuju bengkel
yang ia tunjukkan. Melihat bayangannya yang lamat-lamat kuinjak, karena
matahari tak lagi berada di atas kepala,
letaknya bergeser sedikit ke arah barat.
Kulihat lagi arlojiku ternyata menunjukkan angka yang selalu di perebutkan
yaitu “satu”. Sudah satu jam rupanya
aku berjemur siang bolong karena mobil
mogok tadi.
“Assalamualaikum,” ucap gadis berkrudung merah itu pada salah seorang
pegawai bengkel tersebut. Aku heran,
dia masuk. “Wa’alaikumsalam,” jawab
lelaki itu.
“ASTAGA, INI RUMAHNYA!” Seperti kado special yang sengaja diberikan
untukku dan Tuhan seolah mengizinkanku untuk bisa dengan mudah menemuinya kembali. Sesegera mungkin aku
mengalihkan pandangan kepada bapak
bengkel. Sepertinya ia melihatku yang
sedang memperhatikan wanita krudung merah dan kini mulai tak terlihat
perawakannya. Bisa juga disebut kepo
(knowing every particle object) kalo dalam
bahasa gaul sekarang.
Setelah beberapa menit berbincang-bincang bahwa mobilku berada
lumayan jauh dari bengkel tersebut,
maka bapak itu berinisiatif untuk membondong peralatannya dan menutup
bengkelnya. Maklum saja bengkel kecil
seperti ini tak cukup jika harus menerima karyawan.
Kemuadian wanita itu keluar, memberikan kunci motor. Ternyata ia berganti krudung dan warnanya sangat kusuka
“hitam” adalah warna favorit seperti
Honda jazz-ku. Memang aku selalu
memperhatikan krudung wanita itu,
semenjak mengenalnya. Dan, karenanya aku selalu suka warna apapun yang
dipakai dari perempuan berkrudung itu.
Setelah semua selesai diperbaiki,
mobilku melaju kembali menuju rumah,
dengan pikiran yang masih mengingat
senyum rekah di bibirnya. Pertanyaan
yang saat ini menghujatku, “kapan akan
bertemunya kembali dan kejutan apalagi
yang akan membuatku terkecoh kembali.”
***
Dua bulan berlalu, saat skripsiku telah ditunggu di ujung persidangan yang
lumayan mendebarkan. Tiba-tiba terbesit
di benakku untuk menjumpainya kembali. Entah hasrat apa yang buatku ingin
melihatnya meski sekilas saja. Aku pun
berencana untuk pergi menjumpainya di
rumah bengkel yang pernah ia tunjukkan kepadaku. Tanpa piker panjang aku
langsung meluncur ke rumah bengkel.
Mobil terpakir di tepian jalan mengantarkanku untuk segera menuju ke
lelaki paruh baya yang tengah berdiri
membelakangiku.
“Assalamualaikum,” kucoba mengikuti apa yang perempuan itu katakana
ketika bertemu orang ini dua bulan lalu.
“Waalaikumsalam,” jawabnya serak-serak basah seperti mendengar suara
yang amat dirindukan, Ia langsung berbalik badan dengan muka murung.
“Permisi bapak, hhmm….” Pikirku
sejenak menanyakan dalam hati “Siapa
nama wanita itu? Berkenalan saja belum,” celotehku dalam hati.
“Maaf dek ada yang bisa dibantu?”
ujarnya seperti ikut kebingungan melihatku yang sedaritadi bingung. Memang
merindukan seseorang yang belum
dikenal memang tak ada banyak alasan
untuk menjelaskannya. Apalagi ingin
bertemu dan berhadapan langsung dengan ayahnya.
Setelah menjelaskan maksud dan
tujuan, lelaki itu masuk. Sepertinya
memanggil wanita berkrudung itu. Dan
setelah lumayan lama berada di dalam.
Terkejut bukan mainnya ketika wanita
itu keluar dari rumah. Ia mengerutkan dahi, mengetahui keberadaanku
mungkin tak disukainya. Setelah itu ia
langsung berkata, “aku melepas hijabku dan menjual agamaku, aku tau kau
mencariku karena krudung yang aku
kenakan selama ini”.
Dan kau tau apa yang kulakukan
saat mengetahui ia mengatakan itu? Aku
pergi meninggalkannya tanpa harus kutahu lagi kejelasannya, seperti halnya ia
meninggalkan agamanya. Pertemuan ke
tiga ini benar-benar membuatku mengerti berbagai cara orang menyambung
hidupnya dengan seperti apa, begitu pun
wanita itu dengan caranya sendiri.
Angin berhembus mengantarkan
pertemuan ke tiga ini dengan bendungan
air mata yang tak mungkin bisa kutahan
lagi. Dan yang terakhir kalinya aku pun
menghirup udara di dunia, sebelum
persidangan itu, sebelum menuju honda
jazz berwarna hitam yang kini menjadi
satu warna yang kusukai kembali. Karena wanita itu pun tak memakai krudung
lagi, seperti warna-warna yang aku suka
apapun dari wanita itu yang ia kenakan.
“Brakkkk,” suara tabrakan yang
menggaduhkan, aku cukup terganggu.
Membuatnya aku terbangun dan melayang-layang. Terdengar dari kejauhan
langit saat aku ingin pergi selamanya,
ada seorang wanita menuntun lafadz
“asyhaduanlaailaa ha illah… wa asyhaduanna muhammadurrasuulallah.” Ya, wanita
yang baru kujumpai satu menit lalu yang
mengucapkannya.

Oleh : Sri Rahayu
Mahasiswa Perbankan Syariah Semester III dan pegiat LPM FatsOen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages