Cirebon, 14 Maret 2014
Dear Ayah …
Apa kabarmu hari
ini yah? Lama tak berjumpa denganmu, lama tak menatap teduh wajahmu. Apakah
suaramu masih tetap seperti dulu? Suara yang begitu lembut, hangat menyapaku,
hangat membelaiku, menemani gundah yang tak sopan memasuki relung hidupku. Apakah
kau kurus? Atau malah semakin subur? Adakah lekuk keriput di wajahmu? Aaah,
sungguh rindu hati ini padamu.
Tahukah kau
ayah, aku sengaja menuliskan ini untukmu. Kertas putih ini adalah catatan
kecilku, yang sengaja ku tulis untuk mencurahkan rinduku padamu. Apa perlu kau
tahu, aku sangat rindu akan hadirmu saat ini. Aku pikir, kau perlu tahu itu.
Ah, apakah kau juga merindukanku? Mengapa lama sekali kau tak kirimkan aku
kabar tentangmu di sana?
Oh iya, lama
sekali aku tak berbagi cerita padamu. Kau tahu? Aku iri melihat temanku, Nita.
Setiap hari ia diantar-jemput oleh ayahnya. Kemanapun ia pergi, ayahnya begitu
setia mengantarkannya dari ujung pintu rumah sampai ke tempat yang ia tuju.
Duhh, andai saja kau juga mau mengantar-jemputku seperti itu.
Dear Ayah …
Hari ini aku
lagi manja yah. Hati ini rasanya ingin memeluk dekapan hangat tubuhmu. Maukah
kamu menemani malamku? Malam ini saja …
Aku sungguh merindukanmu.
Aku, putri kecilmu, ingin bercerita panjang lebar padamu. Maukah kamu mendengar
segala keluh kesalku? Aku ingin mendengar suaramu sekali lagi. Sungguh, rindu
sekali hati ini.
Ingat tidak yah?
Dulu kau pernah mengajariku cara berpuasa. Meskipun aku nakal dan sembarangan
memasukkan makanan ke mulut saat berpuasa, tapi kau tak memarahiku. Justru kau
malah menyuruhku untuk makan sesukaku. Aku ingat itu ayah, bahkan aku masih
mengingatnya saat ini. Apalagi jika bulan puasa tiba, bayanganmu seakan datang
di hadapanku, tuk mengingatkanku bagaimana caramu mengajariku saat itu.
Sungguh, sabar sekali dirimu. Apakah sekarang kau masih tetap sama seperti
dulu, ayah?
Hmm …
Jadi teringat
cerita sahabatku, Rosa. Ia sangat antusias saat menceritakan ayahnya padaku.
Baginya, ayahnya adalah sosok lelaki yang paling ia idamkan. Jika ia menangis,
akan selalu ada ayah yang mampu menghapus air matanya. Jika ia kecewa, akan
selalu ada ayah yang akan membantunya bangkit dan percaya. Jika ia terlelap di
ruang tamu, akan selalu ada ayah yang selalu siap menggendongnya sampai ke
tempat tidur. Akankah itu terjadi padaku saat ini? Ah, khayalku sungguh tinggi
sekali. Bahkan harap telah memecahkan kekecewaannya. Ada apa dengan diriku?
Apakah rindu yang telah membuatku seperti ini?
Jawab
pertanyaanku yah …
Maukah kau diam
sejenak, membaca coretan pena dalam catatan kecilku ini? Bukan hanya dibaca!
Kau pun harus membalasnya yah! Agar aku tak selalu bergelut dengan semua rasa
rindu yang semu ini.
Dear Ayah …
Aku tahu,
catatan kecil ini mungkin terlalu panjang dan melelahkan untuk dibaca. Tapi
asal kau tahu ayah, aku menulisnya dengan penuh antusias. Berharap kau mau
meluangkan sedikit waktumu untu membacanya.
Tapi lagi,
apakah kau masih mengingat putri kecilmu ini? Ah, jangan-jangan kau sudah lupa!
Teringat lagi dulu, saat kau mulai mengacuhkanku. Kau mulai melupakan hadirku
dalam hidupmu. Saat kau mengantarkanku ke halaman rumah ibu dan mencampakkanku
begitu saja. Ingatkah? Saat kau memecahkan semua barang yang tersusun rapi di
lemari. Aku tak mengerti mengapa saat itu kau sangat marah. Mengapa kau
memukuli kaca yang ada di hadapanmu? Lihatlah tanganmu, kau terluka saat itu.
Dan aku, aku hanya bisa menangis. Aku masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang
terjadi. Hampir saja aku membencimu. Tapi sayangku jauh lebih besar daripada
benciku.
Kau tahu? Aku
merasa, aku beruntung. Beruntung pernah merasakan hangatnya kasihmu. Beruntung
pernah mengenalimu. Tak seperti mereka yang tak pernah mengenali siapa ayahnya.
Lagi, aku punya
cerita. Kira-kira seminggu yang lalu kejadiannya. Di pagi yang teduh, ku
temukan seorang gadis kecil tengah merintih kesakitan di ujung jalan yang ku
lalui. Aku amat penasaran kepadanya. Hingga akhirnya ku coba tuk mendekati
hatinya dan mencoba untuk menenangkannya.
Gadis kecil itu,
Maudy namanya. Nama yang cantik bukan? Sama seperti parasnya yang cantik. Namun
tersembunyi oleh rasa takutnya yang begitu nampak jelas di wajahnya.
Maudy, gadis
kecil yang malang. Ayahnya sangat galak; begitu caranya mengungkapkan ekspresi
takutnya. Setiap hari, ia menjadi pengemis jalanan. Berharap ada orang baik
yang mau mengasihinya. Padahal, ia sangat ingin ikut bermain riang seperti
anak-anak lainnya. Tapi jika ia ikut bermain, ia tak mungkin bisa mendapatkan uang.
Ayahnya pasti akan memukulinya jika ia tak pulang membawa uang. Ibunya pun
pergi entah kemana. Mungkin, ia tak tahan atas perlakuan ayahnya yang
semena-mena. Kasihan sekali ia.
Sekali lagi, aku
merasa beruntung yah. Aku sempat merasakan indahnya timanganmu. Senang rasanya
pernah dimanja olehmu. Meskipun aku tahu, itu hanya sebentar. Tapi sungguh,
sungguh sangat membekas dalam ingatan ini.
Oh ya, hampir
saja aku lupa menceritakan temanku satu lagi yah. Namanya Gina, nama yang
sangat manis dan feminin bukan? Tapi namanya tak selaras dengan tingkah lakunya
yang agak maskulin. Aku juga agak aneh akan dirinya yah. Hehe
Tau tidak?
Awalnya aku sangat enggan untuk berteman dengannya. Tapi ada satu sisi lain
yang tak pernah orang lain sadari akan dirinya. Sebenarnya, ia adalah wanita
baik-baik. Bahkan lebih baik daripada wanita yang terlihat feminin, anggun dan
terlihat baik-baik di mata orang lain.
Ya, harus engkau
tahu yah, dia seperti itu karena ayahnya yang selalu memperlakukannya seakan
seorang anak laki-laki. Setiap hari, ia bekerja kuli mengikuti kerjaan ayahnya
sebagai seorang kuli. Dan ibunya? engkau pasti akan kaget jika mendengar bahwa
ibunya telah pergi meninggalkannya semasa ia kecil. Sungguh, ibu yang tak
berperasaan bukan? Tapi aku bisa bersyukur di sana, karena ibuku tak seperti
ibunya. Ya, engkau juga tahu kan? Ibu adalah wanita yang sangat luar biasa
hebatnya. Ia tetap bertahan membesarkan dan mendidikku hingga aku tumbuh dewasa
seperti ini. Meski tanpa kehadiranmu ayah.
Dear Ayah …
Engkau sekarang
ada dimana? Sepertinya kau telah terlempar jauh entah kemana. Engkau tak mati,
tak mati dalam kenyataan, tapi mati dalam seluruh hidupku. Sudikah engkau untuk
melihatku tumbuh dewasa? Lihatlah, putri kecilmu sudah mulai tumbuh dewasa
sekarang. Aku tahu, kau masih ada. Kau masih nampak, jelas dan terpampang nyata
di sana, di tempat yang aku tak tahu dimana.
Aku mohon padamu
ayah …
Balaslah catatan
putrimu ini. Jangan kau buat aku berharap dan terus berharap. Jangan kau buat
aku kecewa, atau bahkan membencimu. Aku tak ingin membencimu. Meskipun takdir
mengharuskanku untuk membencimu. Tapi satu, satu yang tak mungkin ku lupakan
darimu dan semua kenangan kita.
Saat itu …
Saat kau
berusaha untuk menempati seluruh janjimu padaku. Aku ingat, kau berjanji untuk
membelikanku jam tangan, kan? Meskipun pada awalnya kau lupa akan janji itu,
tapi pada akhirnya kau tepati juga. Kau bawakan aku satu buah jam tangan yang
sangat manis. Meski …
Meski aku tahu, jam tangan
yang kau bawakan untukku bukanlah jam tangan yang sempurna. Kau telah
memecahkan kacanya. Jam tangan yang baru saja kau beli pun kini jadi terlihat seperti
tak baru lagi. Tapi tenang saja, aku akan tetap memakainya. Karena bagiku,
bukan kesempurnaan yang aku mau, tapi ketepatan akan janji yang pernah engkau
janjikan. Jadi, pantaskah aku membencimu? Kurasa tidak! Malah aku harus
berterimakasih padamu. Terimakasih ayah, kusampaikan padamu atas segala yang
pernah kau berikan padaku. Sungguh, tak mampu aku tuk melupakan segalanya.
Semoga saja,
Tuhan mau membantuku menyampaikan catatan kecil ini padamu ayah. Agar kau tahu,
betapa aku merindumu. Tak ada sedikit pun harap untukku membenci dirimu. Aku
merindukanmu, merindukanmu yang dulu.
Salam Putri Kecilmu,
Nadya
-selesai-
Oleh : Tira Nazwa Aliyyah
Mahasiswi
Tadris Matematika Semester V dan pegiat LPM FatsOeN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar