Oleh : Tira Nazwa Aliyyah
Banyak
orang yang menjalin cinta, tapi tak mengerti apa itu cinta. Katanya, cinta itu
bisa buat orang buta, bahkan sampai gak pakai logika. Tapi apalah kata orang,
aku tak peduli. Setahuku, cinta itu tidak memerlukan ribuan untaian kata yang
mengalun indah. Ya, untuk apa kata-kata, jika perilaku tidak menunjukkan bahwa
aku jatuh cinta.
Malam
ini, rasa rindu membangunkan tidurku yang lelap. Rasa malas begitu pekat
menyelimutiku, tapi rindu itu terus saja mengusik nadiku. Ah, rindu benar-benar
menyiksaku. Haruskah aku terbangun tengah malam seperti ini hanya untuk
merindukannya? Dia, ya dia, lelaki yang selalu saja hadir di dalam pikiranku.
“Astaghfirullah
ya Allah, jam berapa ini?” desahku.
Suara
detakan jam dinding di luar kamar ini terdengar begitu jelas setiap detiknya.
Lampu-lampu rumah pun masih padam. Ku lihat langit di celah kaca kamarku; masih
gulita.
Terduduk
aku termenung di tempat tidurku. Apa yang terjadi dengan hati ini? Ah, begitu
lemah hati ini jika sudah disandingkan dengan problematika percintaan.
Ku
coba untuk menenangkan diri. Kupejamkan mata secara
perlahan.
Mencoba bernapas dengan irama yang teratur. Menyenangkan. Angin berhembus
begitu pelan, menyentuh kulitku dengan genitnya. Aku tersenyum. Udara malam begitu
hangat menyapaku.
***
“Tuuuut,”
ku beranikan diri untuk menghubunginya.
“Assalammu’alaikum,”
suara di sebrang jalan sana terdengar begitu jelas.
“Wa’alaikumussalam,”
jawabku gugup. Spontan saja telepon genggam ini ku berikan kepada Putra selaku
pimpinan latihan. Aku tak tahu apa yang selanjutnya terjadi, yang ku tahu
jantungku masih berdegup kencang. Ini kali pertamanya aku menghubunginya.
Meskipun karena alasan latihan dan dia ‘aktor utamanya’, tapi entah mengapa, jantung ini berdegup tak karuan.
“Ini
na,” suara Putra tiba-tiba meredakan detakan jantungku.
“Ah,
udah tah?” tanyaku.
“Iya
udah,” jawabnya singkat.
“Gimana
katanya? Rizal mau ke sini?”
“Iya,
katanya lagi di jalan,”
Sungguh,
aku tak dapat menutupi rasa bahagia ini. Rasa, yang entah mengapa begitu menggebu-gebu,
terasa bergejolak dan ah, sungguh tak karuan. Sepertinya pengadaan drama kelas
ini akan memperpanjang waktu kebersamaanku dengannya. Ya meskipun kami tak pernah saling bicara, tapi aku bahagia. Bahagia
melihatnya baik-baik saja.
“Hai zal!” suara Raka menyita penuh perhatianku. Spontan
saja aku menengok ke arahnya.
Tak
kuasa dan tak bisa ditahan lagi, bibir ini terus saja menyunggingkan senyumnya.
Aku bahagia melihatnya datang ke tempat ini. Lihatlah, ia berjalan ke arahku
dengan membalas senyumanku. Dan aku? Entah mengapa kepala ini tiba-tiba
mengangguk. Sorot mataku terfokus pada matanya. Ia terdiam sebentar dan
membalas anggukanku dengan senyuman manisnya yang begitu meneduhkan hati. Ya,
hanya dengan sebuah anggukan, kami pun sama-sama mengerti apa artinya itu.
Mungkin orang lain tak tahu karena tak ada yang memperhatikan tingkah kami.
Tapi inilah kenyataannya, bahwa kami bicara melalui isyarat.
“Ayo
kita mulai latihannya!” suara Putra begitu jelas dan lantang. Ia memang selalu
semangat setiap kali memimpin latihan. Tak salah kami memilih putra sebagai
pimpinan latihan.
***
Detik
berlalu begitu cepat. Suara adzan menghentikan latihan kami di sore hari ini; sudah waktunya istirahat. Ya, semua
kesibukan terhenti begitu saja. Kini semua orang mengganti kesibukannya
masing-masing. Ada yang langsung menyambar tasnya dan pergi ke Masjid, ada yang
mendekati warung makan terdekat, ada pula yang hanya diam di tempat semula.
Rizal
sudah menghilang. Ia lebih memilih untuk pergi ke Masjid. Aku hanya duduk di
atas tembok yang sengaja dibangun untuk dijadikan tempat duduk ini. Sambil
senderan aku memulai kebiasaanku; melamun.
Sekitar
sepuluh menit sudah waktu istirahat ini berlalu. Rizal pun sudah kembali di
tempat latihan. Ya, aku melihatnya datang dari gerbang. Dan lagi, senyum
tersungging di bibirku saat melihatnya kembali.
Aku
memperhatikannya dari sini, dari kejauhan. Ia datang dan meletakkan tasnya di
tempat semula. Kemudian ia memulai percakapan bersama Raka. Entah apa yang mereka
bicarakan, yang pasti mereka terlihat asyik dengan percakapan itu. Namun
percakapan mereka tidak berlangsung lama. Ku lihat Raka pergi meninggalan
Rizal. Sambil melambaikan tangan, ia pun melangkah menuju arah Masjid.
Tak
lama dari kepergian Raka, Rizal menoleh ke arahku. Ah, ia baru sadar bahwa aku
memperhatikannya sedari tadi. Sungguh, aku salah tingkah saat itu. Ya, walaupun
jarak kami jauh, tapi tetap saja aku salah tingkah saat ia menoleh ke arahku.
Ia
tersenyum. Kemudian ia melangkahkan kakinya. Entah ke mana ia akan pergi
sekarang. Aku tetap di tempat. Mataku sudah tak lagi memperhatikannya. Aku malu
jika ketahuan terus memperhatikannya dari sini.
Tiba-tiba
aku merasakan ada seseorang yang duduk tak jauh di tempat aku terdiam. Langsung
saja kepala ini menoleh ke arahnya. “Rizal?” jerit hatiku kegirangan. Dia
benar-benar Rizal. Ia duduk sekitar setengah meter dari tempat dudukku. Ah,
begitu bahagianya mengetahui ia berada di sampingku seperti ini.
Orang-orang
mulai berdatangan kembali. Tapi kami, kami hanya diam di tempat ini. Tanpa
suara, kami menikmati setiap udara yang berhembus. Tanpa bicara, aku bisa
merasakan bahwa ia pun bahagia berada di tempat ini.
“Oh
Tuhan, aku bahagia berada di dekatnya,” batinku, “biarkan kami menikmati rasa
ini dalam diam. Dengan cara seperti ini pun aku sudah bahagia Tuhan,”
Waktu
latihanku sebagai seorang pemusik sudah selesai. Begitupun dengan Rizal selaku
aktor utama. Kami hanya ‘menonton’ teman-teman yang lain latihan dari sini.
Jarang sekali kami bisa duduk berdua lama-lama seperti ini. Sungguh, hatiku
bahagia.
Matahari
mulai bergeser dari tempat asalnya. Sekarang cahayanya mulai menyorotiku
melalui celah kecil yang terbentuk dari lubang genting bangunan ini. Aku mulai
kepanasan.
“Ya
Allah panas. Tapi gak mau pergi dari tempat ini,” keluhku dalam hati. Aku
bertahan dari semua rasa panas ini. Aku bertahan, karena ingin di sampingnya
hingga latihan ini harus usai.
Keringat
pun mulai bercucuran dari kulitku. Memang, sorotan cahayanya tak seberapa
mengenai tubuhku. Tapi panasnya begitu menyengat. Ada teriakan-teriakan marah
dalam jiwaku; aku kepanasan.
Namun
itu tak berlangsung lama. Sekarang aku bisa merasakan kesejukan kembali. Sejuk?
Ya, ini memang terasa aneh. Tapi itulah
kenyataannya. Ku lirikkan mataku ke arah sang mentari. Ah, pantas saja sejuk.
Dia sengaja menengadahkan tangannya ke arah cahaya yang menyorotiku sedari
tadi.
“Oh
Tuhan, dia benar-benar pengertian. Terima kasih ya Allah,” ucap syukurku dalam
hati.
Dia,
sosok lelaki yang penuh pengertian. Bahkan tanpa diminta pun ia bisa mengerti
apa yang aku butuhkan saat ini. Ah, hatiku penuh bunga-bunga. Rasa sayangku
padanya semakin bertambah besar.
***
Tiba-tiba
telepon genggamku berdering begitu keras, membuyarkan lamunanku yang
menyenangkan ini. Dengan dahi yang berkerut, ku paksakan tangan untuk
meraba-raba tempat tidurku. “Aha! Akhirnya ku dapati juga telepon genggam itu”.
“Aih,
ternyata suara alarm,” ujarku pada diri sendiri, “alarm?” ucapku sekali lagi.
Ku perhatikan baik-baik layar kecil telepon genggam yang sudah mulai ‘tertidur’
kembali. Ku nyalakan telepon genggam itu dan mengecek kembali alarm yang tadi
berbunyi.
“Ulang
tahun Rizal?” ucapku setengah kaget, “untuk itukah Engkau membangunkan tidurku
Tuhan?”. Langsung saja kaki ini bergerak menuju kamar mandi yang letaknya tidak
begitu jauh dari kamarku. Entah mengapa hati ini begitu ringan dan bahagia
malam ini. Bayang-bayang lelaki itu terus saja melayang-layang di dalam
proyeksi otakku.
Air
yang mengalir di atas kulit ini terasa begitu dingin. Mengalir pelan seiring
dengan gerakan tanganku. Mengalir, membasuh wajahku yang kering tanpa polesan
bedak, membasuh tanganku yang juga kering tanpa sentuhan lotion, menyentuh sela-sela kulit kepalaku yang masih ditumbuhi
rambut, dan terakhir, membasuh kakiku yang sama-sama kering tanpa sentuhan lotion.
Di
hari yang masih gulita aku mengaduh; mengganti setiap tatanan rindu yang
menggebu-gebu menjadi tatanan doa yang berjuntaian begitu indah. Malam ini rasa
rindu itu datang dengan mengetuk pintu hati. Ah ya, sudah lama sekali aku tak
berjumpa dengannya. Namun biarlah, biarkan Tuhan yang tahu aku tengah
merindunya.
“Allah
Tuhanku, malam ini, di sini, aku ingin mengadu padaMu. Di hari kelahirannya
saat ini, rasa rindu itu datang membangunkan tidurku. Tak apalah bagiku,
karenanya aku bisa terbangun dan mendoakannya di sini. Tuhan, pintaku hanya
satu, cintailah ia selalu dengan cintaMu yang begitu agung, agar setiap
hembusan napasnya hanya bertasbihkan namaMu. Tuhanku yang Maha Bijaksana,
lindungilah ia selalu di sana. Tegurlah ia dengan teguranMu yang lembut jika ia berbuat salah. Ampuni segala dosanya. Aku
menyayanginya, menyayanginya karenaMu ya Allah, Engkau yang telah menumbuhkan
rasa ini di dalam dadaku. Semoga Engkau memberikan keberkahan atas umurnya saat
ini. Aamiin yaa Rabbal ‘alamiin,” ucap doaku sepanjang malam ini.
-selesai-
Cirebon, 26
Desember 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar