![]() |
| sumber gambar : purbanegara.com |
Salah satu yang perlu diapresiasi
adalah, film ini mau repot main-main simbol. Harus saya akui bahwa film ini
saya tonton di waktu yang tidak tepat. Entah kesialan macam apa yang saya punya:
Ketika harga mie rebus merangkak naik, ibu kos yang sudah ngode-ngode nagih
bayaran, sedangkan perut dan isi dompet sama-sama kosong. Di tengah kondisi macam
itulah saya menonton film ini. Di tengah kondisi yang bahkan untuk mengingat
mantan pun akan terasa berat bagi siapapun.
Dalam kondisi tersebut kemudian saya
dipaksa oleh film ini menjadi Robert Langdon. Sungguh merepotkan. Kita harus
awas dengan simbol-simbol yang bertebaran di sekujur film. Film ini seperti diniatkan menjadi slide show simbol namun disusun dengan
alakadarnya dan kasar. Di sana-sini terasa sekali simbol-simbol didesakan
begitu saja ke penonton. Sesaat kita akan berfikir bahwa film ini cerdas, tapi kok
sok!
Dalam karya film tentu hal tersebut
merupakan sebuah tantangan kreatifitas tersendiri. Tanpa upaya itu, film hanya
akan menjadi potongan-potongan gambar dan suara yang ringkas makna. Upaya
kreatifitas yang nanggung pun hanya akan menjauhkan film dari penonton. Film
ini menurut saya, mengambil resiko untuk itu.
Film pendek yang diberi judul cukup
panjang ini, Kamu di Kanan Aku Senang
(KDAS) bertutur melalui-perbedaan ke-perbedaan yang muncul di sepanjang adegan
yang diulang-ulang. Sejauh saya melihat film-film pendek indonesia, gaya ini
cukup jarang dipakai. Gaya seperti ini justru sering ditemukan dalam karya
sastra semisal puisi atau cerpen. Tentu dalam karya audio visual, penggunaan struktur cerita repetisi semacam ini jauh
lebih beresiko ketimbang dalam karya teks: Kosa gambar, angel, dialog dan lain
sebagainya yang diulang-ulang adalah cara paling cepat dan mudah mengundang
rasa bosan penonton. Karena itu, gaya repetisi selalu memiliki beban lebih untuk
menghadirkan kejutan yang berarti di akhir.
Selama sekitar enam menit, KDAS
menyuguhkan adegan yang diulang-ulang hingga empat kali: seorang perempuan dan laki-laki
duduk di kursi dengan mata kamera full
shoot dari belakang. Di situ terjadi dialog yang ringkas namun berhasil menunjukan
karakter dan konflik dari film ini. Adegan itulah yang kemudian diulang-ulang
dengan semua perbedaanya: posisi duduk, setting, nada dialog dan tentu saja
yang menjadi ide sekaligus yang dipermasalahkan di film ini, yakni posisi!
Di film arahan BW. Purbanegara ini,
persoalan posisi menjadi instrumen sekaligus topik yang disuguhkan. Dari awal,
film ini secara baik memperlakukan posisi untuk motif dan unsur pembangun
dramatik film. Pilihan angel, properti, bahkan dialog secara konsisten dan
cerdas memperlakukan “posisi” dengan seperlunya. Saya kira, disinilah
keunggulan KDAS. Film ini berhasil meringkas konsep film secara baik melalui adegan-adegan
yang lugas.
Ide cerita yang disuguhkan dalam film
ini tentu bukanlah hal baru. Namun film ini berhasil menuturkannya dengan cara yang
tak umum. Struktur yang digunakan di film ini, dengan mengulang-ngulang adegan,
tidak hanya bermaksud meninggalkan kesan penekanan pada bagian-bagian tertentu,
namun lebih dari itu, KDAS berhasil memampatkan gagasan film dan secara
bersamaan membuka peluang secara luas terhadap interpretasi.
Melalui penekanan-penekanan itulah
kita akan tahu bahwa KDAS berniat mengangkat permasalahan lawas tentang
hubungan dua orang manusia dengan menghadirkan dua perspektif yang berbeda
sebagai tesis: yakni perspektif laki-laki dan perempuan mengenai sebuah
hubungan. Posisi di sini menjadi penting karena kita tahu, bertolak dari wacana
feminisme, perempuan masih menjadi makhluk kelas dua setelah laki-laki. Melalui
benturan perspektif laki-laki dan perempuan inilah, KDAS ingin bersuara lebih
soal hal tersebut.
Di sini kita bisa mulai dari dialog si
tokoh perempuan yang nanti menjadi salah satu bagian yang diulang-ulang: “Kamu di kanan aku senang, kayak di
pelaminan...”. Di dalam dialog tersebut penonton akan disuguhkan konflik serta
karakter si tokoh perempuan yang penuh harap dan ambisius memahami soal
hubungan. Yang menurut saya cukup berhasil mewakili karakter perempuan di
belahan bumi manapun. Di adegan ini kesadaran penonton digiring untuk itu. Tokoh laki-laki yang dimunculkan pun
merupakan prototipe laki-laki dengan fitrah “kebrengsekannya” yang wajar. Yang
punya seribu satu macam teori untuk nyepik
asik tanpa resiko. Dari sinilah penonton dihadapkan pada dua karakter dan perspektif
yang tak saling bertemu soal bagaimana menyikapi sebuah hubungan.
Pada bagian inilah saya kira
keunggulan lainnya pada KDAS. Tak ada perspektif yang dibenarkan ataupun disalahkan.
Struktur yang dibangun dalam film ini bahkan mengajak dengan sangat halus
kesadran penonton untuk menjelajahi keduanya. Dan di adegan terakhir, benturan
itu di redam dengan sangat cantik dan dingin. Film ini bertanggung jawab dengan
keputusannya bertutur dengan gaya repetisi. Penonton disuguhkan ending yang cukup menebus “dosa-dosa”
film ini sebelumnya:
Setelah beberapa kali laki-laki itu
menghindar, pada adegan akhir, si perempuan duduk sendiri di atas kursi yang
sama dengan kursi-kursi sebelumnya. Hanya sekarang, tak ada ruang di sebelah
kanan yang ia sisakan. Perempuan itu seperti menunggu, tapi entah siapa. Seperti
berharap, tapi entah untuk apa. Sedangkan di sekitarnya, angin terdengar lebih rusuh
di antara ilalang-ilalang yang berwarna kuning-layu. Mata kamera pelan-pelan
mengajak penonton masuk ke dalam kesendirian perempuan itu. Perempuan yang
sedari awal ingin ada laki-laki yang duduk di sebelah kanannya, namun
berkali-kali laki-laki itu menghindar. Perempuan itu bahkan tak memperdulikan
pujian laki-laki itu terhadap separuh dirinya.
Sedari awal, Dia berharap laki-laki itu ada di sebelah kanannya. Tapi bukan
hanya demi mimpi dan ambisinya soal pelaminan. Bukan juga karena ia seorang
perempuan dan karenanya selalu se-sederhana itu. Justru dari sini, melalui
keterbatasan penglihatan si perempuan, kesan penonton diam-diam dijungkir
balikan. Nyatanya perempuan itu memiliki pandangan yang luas dari
penglihatannya: Ia butuh pelengkap untuk kekurangan yang ia sadari.
Memangnya, bisa sebaik apa lagi kita
memaknai sebuah hubungan? “Kamu di Kanan
Aku senang...”, di bagian akhir saya merasa ucapan itu menjadi lebih bunyi
dan berarti. []
Oleh: Sep Andry

Tidak ada komentar:
Posting Komentar