![]() |
| Sumber Gambar: |
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau
Asean Economic Community (AEC) sudah dicanangkan oleh pemimpin-pemimpin Negara di
Asean. Dimana ada 10 negara yang berkontribusi, yaitu Indonesia, Singapura,
Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Filipina, Vietnam, Laos, Myanmar, dan
Kamboja, Korea, China, Kamboja, dan lain sebaginya pada tahun 2012 di Phnom
Penh Kamboja. Indonesia yang kala itu diwakili oleh Susiolo Bambang Yudhoyono
yang masih menjadi presiden republik Indonesia. Kemudian para pemimpin Negara
Asean sepakat untuk menetapkan tanggal 31 Desember 2015 sebagai hari
pemberlakuan resmi MEA. (Radar Cirebon 2/01). Ada waktu untuk mempersiapkan
berlakunya MEA bagi seluruh Negara-negara di Asean. Di Indonesia sendiri,
terutama di Cirebon, belum ada penanganan yang serius dalam mempersiapkan MEA,
baik itu dari peningkatan pendidikan, mengadakan berbagai pelatihan berwirausaha,
dan lain sebagainya, yang belum secara maksimal diterapkan.
3 tahun lebih, kini Masyarakat Ekonomi
Asean (MEA) sudah resmi berlaku 31 januari 2015. Namun yang harus ditanyakan
adalah, siapkan Indonesia menghadap MEA? Sudah seberapa jauh persiapan yang
sudah disiapkan? Kita dapat melihat bagaimana Indonesia gaduh dari berbagai
sector, seperti ekonomi yang tidak stabil, kurangnya pemanfaat teknologi
informasi secara maksimal, dan tidak mencintai produk hasil karya anak bangsa.
Sehingga membuat Indonesia tidak mudah untuk bangkit, perlahan moralitas mulai
pudar, korupsi terjadi dimana-mana baik dari para pejabat tinggi, hingga
pejabat daerah.
Pemahaman masyarakat Cirebon sangatlah
beragam, banyak yang menyatakan bahwa masyarakat ekonomi Asean (MEA) adalah
sebuah ajang ekonomi di Asean, kemudian bebas dalam melakukan segala bentuk
perekonomian. Namun bukanlah itu yang dimaksud masyarakat ekonomi asean (MEA).
Masyarakat ekonomi asean (MEA) adalah pasar tunggal atau single market antar Negara asean, artinya setiap Negara bebas untuk
melakukan perekonomian secara langsung dan dibatasi oleh lima sector yakni
bebas arus barang, jasa, modal, investasi, dan tenaga kerja (Sumber Daya
Manusia/SDM).
Ketika kita bercermin pada tahun 2015,
berdasarkan data akumulasi Dinas Sosial, Ketenagakerjaan, dan Transmigrasi
(Dinsosnakertran) Kota Cirebon menyebutkan bahwa tercatat sebanyak 11.000
pencari kerja dan ditahun 2016 akan terus mengalami peningkatan. Ini disebabkan
oleh banyaknya lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, mereka lebih memilih
untuk langsung bekerja. Dan di Cirebon sendiri, pencari kerja dengan jumlah
perusahan yang membutuhkan karyawan berbanding terbalik. Lebih banyak pencari
kerja disbanding lowongan yang ada di perusahaan.
Kemudian di kabupaten Cirebon, sebanyak
1.200 perusahaan yang ada di kabupaten Cirebon sepakat dengan penetapan UMK
Cirebon 2016 sebesar Rp 1.592.220. Deni Agustin SE selaku kepala Dinas Tenaga
Kerja, dan Transmigrasi (Disnakertrans) menyatakan bahwa batas akhir untuk
penangguhan keberatan pada tanggal 22 desember 2015, tidak adalagi penangguhan
dan keluhan. Karena setiap perusahaan harus mampu membayar pekerjanya sesuai
ketetapan. (Radar Cirebon 2/01)
Permasalah utama adalah tidak ada
peluang kerja untuk memenuhi kebutuhan pencari kerja untuk ditempatkan dimana,
kemudian perusahaan pun banyak yang keberatan atas UMK yang semakin tinggi,
membuat perusahaan sulit untuk membayar pekerjanya. Bisa jadi perusahaan
menaikan harga produk yang mereka jual, dan jika ini terjadi maka yang terkena
dampak adalah masyarakat. Walaupun UMK naik, namun kebutuhanpun semakin tinggi
melambung, ini akan mencekik masyarakat yang tidak mempunyai pekerjaan dan
penghasilan sama sekali.
Masalah lain, yaitu sumber daya manusia
di Cirebon masih kurang dalam berbagai bidang, dalam artian masih sedikit SDM
yang kompeten, yang mempunyai keahlian di setiap indvidunya. Mungkin hanya
lulusan SMK yang seikit memperoleh keahlian dari bidang yang digelutinya, ini
pun tidak maksimal mereka manfaatkan. Contohnya seorang siswa jurusan otomotif,
kemudian setelah ia lulus, ia bekerja bukan ditempat otomotif, melainkan tempat
lain yang bukan bidangnya. Ini pun menjadi masalah, karena pos yang sudah
disiapkan, bergeser pada pos yang lain.
Nah masalah lulusan SMA yang tidak mempunyai
keahlian khusus layaknya lulusan SMK, ini akan dilarikan kemana ketika ia ingin
bekerja. Seakan problem masyarakat tak kunjung usai, sampai seberapa jauhkah
kesiapan masyarakat menghadapi MAE ini? Bagaimana SDM kita bersaing dalam lima
sektor tersebut. Ketika pasar sudah menjadi global, proses interaksipun akan
bergeser dengan menggunakan bahasa Internasional yaitu bahasa Inggris ataupun
bahasa Arab, dimana sebagai bahasa yang dapat dimengerti oleh masyarakat asing,
karena jika kita tidak bisa berbahasa Internasional (Inggris dan Arab) maka
susah untuk menunjang kemajuan Cirebon di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
Selama ini banyak workshop, seminar, dan
berbagai kegiatan seremonial yang bernuansa MEA. Namun realitas apa yang sudah
dilakukan oleh kita? Entahlah. Pemerintah semestinya harus berfikir lebih jauh
tentang masalah sumber daya manusia (SDM) guna mempersiapkan diri untuk
menghadapi MEA. Yang pertama dari sumberdaya manusia (SDM) yang kemampuan atau
keahlian yang berkompeten, kemudian kedua yaitu mempersiapkan generasi muda agar
bisa menggunakan bahasa Internasional (Inggris dan Arab), cukup 2 persiapan
dasar yang tadi dapat menunjang masyarakat Indonesia terutama di Cirebon untuk
bisa bersaing dalam masyarakat ekonomi asean (MEA).
Begitupun di dunia pendidikan, seperti
Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) harus mulai
diadakan dan diterapkan kurikulum berbasis industri. Mengapa demikian? Karena
industri adalah hal penting yang harus dipelajari generasi muda, karena peluang
kerja terbesar adalah di bidang industri. Kemudian ketika siswa memahami apa
itu masyarakat ekonomi asean (MEA) melalui sisi industri, dan peran apa yang
harus dilakukan setiap individu dalam menghadap MEA, dan segala yang berkaitan
dengan perkembangan indrustrialisasi. Sehingga ketika generasi memahami proses
MEA dan dampak yang didapat apa yang ditimbulkan dari MEA bagi masyarakat.
Yang paling signifikan adalah peran
Teknonologi Informasi (TI), dimana ketika sebuah produk bisa diperjual belikan melalui
online maka semua orang dapat melihat dan dapat membeli produk itu, baik dari
daerah, luar daerah, bahkan luar negeri sekalipun. Ini dapat dilakukan apabila
pemanfaatan media teknologi informasi dimanfaatkan secara maksimal. Lagi-lagi
masalahnya ada ketidak pahaman masyarakat atas dampak positif dari perkembangan
teknologi informasi.
Dan yang terakhir, pemerintah harus
bersinergi dengan pengusaha kecil yang mengembangkan produk asli daerah,
contohnya di Cirebon adanya batik, maka pemerintah harus membantu bagaimana
batik ini bisa dikembangkan lebih maju, kemudian bisa dikenal masyarakat luas dan
produk bisa diperjual belikan tidak hanya di daerah, namun keluar daerah,
bahkan keluar negeri. Kemudian rotan, Cirebon sangatlah terkenal dengan adanya
kerajinan rotan, bahkan di Internet (bisnis online) sangat laris dan kebanyakan
pembelinya adalah masyarakat luar. Ini
adalah sebuah potensi yang sangat luar biasa bila dikembangkan terus. Dimana
ketika semua bisa berjalan saling bersinergi maka akan mewujudkan kesejahteraan
melalui produk asli karya cipta masyarakat pribumi yang diperuntukan oleh
seluruh masyarakat.
Yang penting adalah kita harus mencintai
produk yang dihasilkan oleh karya cipta masyarakat pribumi, menggali potensi
diri melalui ketekunan, memaksimalkan teknologi informasi dan komunikasi, serta
bersama-sama membangun kesejahteraan. Salam
Belajar Berjuang Bertaqwa!!!
Penulis: Ikfal Al Fazri
Pegiat
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM)
FatsOen IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan Menteri Informasi Komunikasi dan Teknologi
Dewan Mahasiswa (DEMA) IAIN Syekh Nurjati Cirebon 2015/2016
*tulisan ini dimuat di Radar Cirebon edisi Selasa, 5 Januari 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar