By : Poni
Alarm yang bersua cukup riang itu memenuhi setiap sudut ruangan
pribadi milikku. Suaranya terdengar sampai ke ruang tengah dan dapur. Di mana
aku berada saat ini, tengkurap di sopa panjang tepat di depan televisi. Aku cukup
terganggu dengan nada klasik itu, namun apalah daya pendengaranku teramat peka
terhadap suara-suara bergenre 'pengganggu' tidur di pagi hari tersebut. Radarku
menendang bantal sopa, mendengus panjang sebelum akhirnya memanggil lirih nama
sang pemilik alarm tersebut, "Rayaa."
Percuma. Adalah satu kesimpulan yang selalu diperoleh dari
keluhanku ini. Dan Raya, perempuan itu mana mungkin bangun meski ia sudah berkali-kali
menyetel ulang alarm-nya. Ia tetap
terlelap di ranjangku yang empuk dengan pengatur udara yang menghangatkan
tubuhnya. Bahkan, Raya tidak pernah mengasihaniku dengan berusaha mematikan
alarm di ponselnya. Suara alarm, hujan dan petir sekalipun tidak berpengaruh terhadap
kepulasan tidur Raya. Ia tetap terlelap. Terkadang, aku sampai hati mengomel mengenai
suara itu, membangunkan Raya dan mengusirnya dari tempat tinggalku. Meski
akhirnya aku tidak tega dan mengalah untuk mengantarkan ia pulang ke rumahnya.
Ketika seperti ini, aku paling benci melihat jam. Mataku
masih perih, masih berat untuk dibuka dan aku menebak ini baru masuk jam kedua saat
aku memutuskan untuk tidur. Tepatnya, saat ini jam enam pagi. Aku lagi-lagi membuang
nafas kesal karena alarm Raya masih menyala. Dan tidurku tidak akan kembali
nyenyak kalau tidak aku yang menghentikan bunyi suara menyebalkan itu.
Akhirnya, aku benar-benar pergi ke kamarku dengan langkah yang gontai dan mata yang
mengantuk, aku menghiraukan apapun yang ada termasuk ketidak-sadaranku tentang
keberadaan Raya yang lenyap bak di telan bumi. Aku malah menghempaskan tubuhku
di ranjangku. Sudah berapa lama aku tidak tidur di kamarku sendiri sejak Raya
merengek padaku untuk membiarkannya menginap, kurasa hampir seminggu.
Mungkin, menghilangnya Raya kini ia pergi ke kamar mandi
atau hanya sekedar menyikat gigi. Dan, aku tegaskan sekali lagi bahwa aku benci
kebiasaan Raya yang tidak mematikan alarm-nya. Terserah ia mau melakukan apa di
kamarku, tapi aku selalu meminta Raya agar ia mematikan alarm-nya, itu pun
tidak pernah bisa ia sanggupi. Dasar payah!
Aku berhasil melanjutkan tidurku dengan bau tanah yang perlahan-lahan
kuhirup kenikmatannnya. Memang, saat ini hujan sedang berlangsung di luar.
Cukup deras karena setahuku bulan Oktober sudah memasuki musim penghujan. Berbahagialah
bagi pengagum hujan dan rindu. Kalian akan merasakan kerinduan yang tak
beralasan saat hujan turun. Tapi bagiku, setelah menarik kesimpulan dari
konotasi negatif mengenai hubungan hujan dan rindu dengan orang-orang yang
mengenang dua nama itu adalah suatu pengalihan kata-kata bahwa mereka semua tidak
mampu mengungkapkan semua perasaan yang berkecambuk di dalam hatinya. Termasuk
aku, sial! Ya, mereka tidak mengakui bahwa mereka telah kalah.
Lupakan hujan dan rindu. Karena aku baru tersadar bagaimana
aku bisa menghirup bau hujan ini? Fentilasi dan jendela tidak mungkin dapat
menghantarkan bau hujan seperti ini kalau dua benda itu tidak terbuka. Dan siapa
yang membuka jendela balkon sepagi ini? Dengan terpaksa aku membuka mataku. Melihat
Raya berada di balkon bersama hujan. Aku bangun, menggelengkan kepala dan
mengucek-ucek mata. Sekali lagi aku melihat bahwa Raya benar-benar berada di balkon
bersama hujan dan udara sejuk nan dingin. Aku menguap dahulu, sebelum melangkah
ke arah balkon dan akhirnya mengambil jaket levis milik Raya.
Aku menyembulkan kepalaku keluar kamar, mendapatkan Raya
dengan tatapan mengawang menatap pot bunga kecil yang berbunga aster cukup
indah dengan warna-warni yang ada padanya. Aku berhenti berniat memarahinya di
pagi hari ini, karena kudapatkan kembali Raya berwajah sedih. Tidak ada guratan
kebahagiaan di mata atau bibirnya dan ia seperti itu sejak datang ke tempat
tinggalku beberapa hari lalu. Dengan dalih, ayah dan ibunya sedang keluar kota,
sementara ia malas berargumen dengan kakak laki-lakinya mengenai tugas akhir kuliahnya
yang entah kapan selesai. Padahal aku mengetahui mengapa Raya seperti itu -yang
mungkin mengakibatkan terhambatnya tugas akhir kuliah Raya- tapi tidak pernah
aku sampaikan pada salah satu keluarganya. Aku menjadi bisu saat Raya
menampakan kemurungannya padaku. Aku tidak pernah mampu menasehati Raya untuk
bangkit dari rasa sakit hati karena dikhianati oleh sang pangerannya.
"Raya,"
Ia
menoleh ketika aku memanggilnya sekali. Dengan sahutan dagu ia bertanya padaku,
"Ada apa?"
"Aku
rasa kamu butuh jaket, diluar dingin."
Aku menyodorkan jaketnya, ia melihatnya, tapi ia hanya diam.
Gerak tubuhku memang tidak pernah menampakan bahwa aku tertarik padanya. Aku
teramat cuek pada sesuatu yang menurutku bukan milikku, bukan siapa-siapa aku.
Tapi untuk Raya, dia lebih dari itu. Dia adalah perempuan
yang kutemui sedang menangis setelah dipukul sang kakak karena tidak mau
disuruh membeli rokok dan kopi untuk teman-teman kakaknya yang sedang main,
termasuk aku. Dia adalah perempuan yang aku ketahui menyukai teman sekelasku sewaktu
kuliah namun tidak pernah digubris. Dia adalah perempuan yang baru saja patah
hati karena dikhianati oleh sang kekasih. Dia adalah alasanku untuk tidak
pernah berkencang dengan perempuan lain. Dia adalah perempuan yang diam-diam aku
sukai, aku kagumi tapi tak pernah aku kasihi. Ya, aku tidak pernah
mengasihaninya. Aku selalu bersikap cuek dan tidak tertarik padanya, agar Raya
tidak mengetahui bahwa aku menyukainya.
Raya mengembangkan senyumannya, aku terpanah, namun dapat
aku kendalikan gejolak dalam hatiku. "Udaranya sejuk dan dingin tapi kalau
tidak memakai pakaian hangat ternyata bisa membunuh juga." katanya masih
enggan melunturkan senyuman.
Aku tersinggung dengan kalimat Raya. Sepertinya ia
berhasil menancapkan panah di titik hitam dalam sanubariku. Seakan-akan ia memberitahu
bahwa sebuah hubungan tanpa ikatan itu tidak berarti apa-apa. Aku tersenyum
getir menanggapi itu, sebelum akhirnya menjawab, "Makanya kamu pakai jaket
biar ga dingin, nih." kataku menggerakan jaket di tanganku agar Raya cepat
mengambilnya.
Dia diam,
menatapku kosong dan malah bersuara, "Ka Evan.. Aku mau pulang."
Raya malah memintaku untuk mengantarnya pulang ke
rumahnya, membuatku menarik jaket levis milik Raya itu ke dalam pelukanku. Aku
menatapnya sebentar, penuh penat aku mencoba memahami sikap Raya. Tak pernah
bisa menyatu dengan sikap egoku yang tidak mau mengalah, sampai-sampai aku
menghembuskan nafas dalam-dalam.
"Ahhh..
Baiklah. Aku mau mandi dulu."
Aku, Evan Qiandra. Laki-laki yang baru saja melambaikan
tangan kepada Bayu, teman sewaktu smp. Bayu adalah kakak kandung dari Raya.
Usia kami sudah menginjak 25 tahun tapi kami masih betah sendiri. Masih asik
dengan dunia pekerjaan dan begadang, enaknya menjadi aku dan Bayu ketika hanya
tunjangan keluarga sajalah yang membebani pengeluaran bulanan gaji kami.
Selebihnya, aku dan Bayu memakainya untuk bersenang-senang dan sedikit
menabung. Dan saat ini Bayu sedang berdiri di depan gerbang rumahnya, sengaja
menyambut aku dan Raya. Melihat sang kakak, Raya malah menunjukan wajah mendung
padaku. Sepertinya Raya kesal karena aku menghubungi Bayu untuk menyambut
kepulangannya. Alhasil, Raya tidak mengucapkan terima kasih dan tidak ada senyuman
manis seperti biasanya. Perempuan itu langsung turun dari mobil dan masuk ke
dalam rumahnya.
Tersisa aku dan Bayu. Kami mengobrol sedikit mengenai
Raya yang menginap di apartemen milikku dan aku selaku teman baik Bayu meminta
maaf karena tidak memberitahu keberadaan Raya. Dan Bayu memaklumi, ia hanya
mengangguk mengerti setelah aku menjelaskan maksud Raya menginap di tempat
tinggalku.
"Raya
tumbuh menjadi gadis yang manja." kata Bayu memberitahuku.
"Tapi,
terkadang dia juga dewasa." tambahku.
"Gue
ga tahu itu."
"Karena
kalian selalu bertengkar, cobalah untuk mengalah. Lo adalah seorang kakak bagi
Raya, dia butuh tempat berkeluh kesah."
Bayu diam,
kemudian bicara, "Kan ada lo..."
"Gue
cuman teman kakaknya, ga lebih."
"Tapi
lo suka Raya 'kan?"
"Itu
bukan nilai plus selama Raya cuman biasa aja ke gue."
"Payah
lo! Apa harus gue yang bilang ke Raya?"
"Ngga
perlu."
"Buat
Raya jatuh cinta mudah kok.."
"Tapi
sekarang waktunya ga tepat, Raya harus pulih dulu dari permasalahannya.."
Bayu
hanya menaikan kedua bahunya kemudian menjatuhkannya dengan cepat. Bayu juga
menepuk-nepuk pundakku pertanda ia selalu mendukung semua usahaku meski dengan
cara salah sekali pun seperti bersikap tidak tertarik pada Raya. Entahlah, apa
yang sesungguhnya terjadi. Sejak dahulu aku selalu menunggu Raya sembuh dari luka
hatinya, luka-luka yang ia keluhkan saat bersamaku. Penderitaan cinta bertepuk
sebelah tangan atau dikhianati kekasih itu selalu menjadi topik perbincangan
aku dengan Raya. Entah sudah berapa laki-laki yang telah Raya ceritakan padaku
sebagai laki-laki yang ia taksir, selama itu pula aku menahan perih di lubuk hati.
Rasanya nyeri dan tidak karuan, ingin marah namun tak pernah kesampaian. Terkadang,
aku bosan dengan cerita-cerita Raya tentang lakiaki yang ia taksir. Aku mengira dengan bersikap cuek, Raya bisa
menjaga jarak dan tidak bercerita lagi, tapi yang ada Raya malah menangis-nangis
di depanku saat waktu berpisah dia dan kekasihnya tiba.
Berikutnya, ponselku bergetar pertanda ada pesan masuk
dan itu dari Raya. Isinya sangat singkat, padat dan jelas. Hanya satu kalimat
yang terdiri dari beberapa kata dan itu membuat hatiku mencelos begitu saja tanpa
pembedahan terlebih dahulu. Sehingga aku dapat membayangi sedang apa Raya saat
ini di dalam kamarnya.
Pesan masuk
dari Raya:
"Ka
Evan.. Aku benci semua laki-laki."
Kemudian,
Raya mengirim pesan kembali:
"Aku
benci ayah, Ka Bayu, Jeno, Ka Rafly, semuanya. Dan baru saja aku putus dengan
Roy!"
Kata Raya menyebutkan nama laki-laki yang ia benci. Aku
tersentak ketika Raya menuliskan kata 'semuanya' pertanda aku pun termasuk
laki-laki yang dibencinya. Cukup tahu aku bagaimana perasaan Raya saat ini.
Entah masalah apa sehingga ia sangat menaruh dendam pada semua laki-laki,
terlebih ayah dan kakaknya. Seharusnya Raya tidak begitu, seharusnya Raya masih
memberi maaf pada Ayah dan kakaknya sekalipun dua laki-laki itu teramat sering
mematahkan hatinya.
Dengan
sigap aku membalas pesan Raya:
"Besok
kita bicara, dek. Kamu istirahat dulu, jangan memikirkan apapun."
Besoknya aku tidak bertemu dengan Raya, kucari di
rumahnya ia tidak ada. Ponselnya tidak aktif dan Bayu juga tidak mengetahui
keberadaan adiknya. Sudah hampir tiga bulan Raya menghilang. Aku kalang kabut dibuatnya
khawatir. Kutinggalkan semua pekerjaan dan keperluan hanya untuk mencari Raya. Hingga
pada waktunya tiba, teman dekat Raya menghubungiku bahwa ia melihat Raya
bekerja di sebuah restaurant dan ia menjadi seorang pelayan. Pikiranku langsung
bertuju untuk menemuinya, tidak berpikir untuk apa Raya bekerja sebagai pelayan?
Bahkan keluarga Raya cukup mampu untuk menghidupi Raya sampai dua puluh tahun
ke depan tanpa Raya bekerja sekali pun.
Aku mendatangi tempat kerja Raya tapi tidak menemuinya.
Aku melihat Raya dari kejauhan, melihat bagaimana ia menjalani hidupnya selama
beberapa bulan belakangan ini. Dengan kungkungan aturan yang perlu dipatuhi ia
mondar mandir melayani para pembeli, menghiraukan orang-orang yang mengenalnya.
Tapi Raya tidak mendapatkanku telah mengunjunginya. Malang sekali!
Aku tidak pulang. Sebaliknya, aku menunggu Raya keluar
dari penjara pekerjaan yang ia buat sendiri. Raut wajahnya letih, jalannya
tidak bergairah, entah kemana Raya akan merebahkan tubuh lelahnya itu. Sampai
pada persimpangan jalan, Raya disambut oleh anak-anak jalanan yang meminta
jatah makanan. Kisaran usia 12 tahun ke bawah, beberapa anak jalanan itu
menyapa Raya. Aku jadi mengetahui alasan Raya membeli banyak bungkus nasi di
warung makan sederhana tadi. Dengan beralihnya detik setelah raungan anak-anak
jalanan itu Raya menarik dua sudut bibirnya. Mencoba menampakan wajah sumringah
meski lelah. Kemudian, Raya menghamparkan dirinya bersama kerumunan anak-anak jalanan
tersebut. Membagikan nasi bungkus dan makan bersama mereka di kolong jembatan.
Aku mengerutkan dahiku -tidak habis pikir. Maghrib
menemaniku memandangi Raya dari kejauhan. Sampai sejauh ini aku masih tidak mempunyai
alasan mengapa Raya memutuskan mengambil kehidupan seperti itu. Raya
meninggalkan kehidupan mewahnya, menelantarkan tugas akhir kuliahnya dan membiarkan
keluarganya khawatir. Ingin rasanya aku menarik pergi Raya dari sana, namun
sekali lagi tidak bisa. Apalagi ketika aku melihat ada seorang laki-laki -mungkin seusiaku- menghampiri Raya. Baik
Raya dan laki-laki itu sepertinya sudah cukup akrab, mereka tersenyum ramah. Akhirnya,
Raya mengajak laki-laki itu bergabung bersama mereka.
Aku tertawa sekali sebelum akhirnya menggelengkan kepalaku
masih tidak menyangka. Bayu benar, untuk membuat adiknya jatuh cinta sangat
mudah bahkan ia tidak perlu penawar rasa sakit untuk mengobati hatinya. Dan aku
keduluan lagi dengan laki-laki entah siapa di sana, entah bagaimana latar
belakangannya. Cukup puas aku mendapatkan kabar dari Raya, entah mau seperti
apa Raya mendikte hidupnya. Aku sama sekali tidak mengerti, sesuka hati ia memporak-porandakan
perasaanku selama ini. Terserah Raya tapi aku tetap kembali pada kehidupan
normalku. Yang menunggu perempuan itu entah sampai kapan.
Suatu hari dan ini masih pagi, aku baru tidur dua jam.
Suara alarm yang kurindukan terdengar, kali ini bukan berasal dari kamarku karena
aku sendiri berada di sana dan tanpa kehadiran Raya. Aku acuhkan rasa kantukku,
mencoba mengembalikan titik kesadaranku. Aku tidak mau ini hanya mimpi lagi,
aku tidak mau Raya hanya menjadi bayang-bayangku saja. Aku hampir menjadi orang
gila tanpa Raya yang sesekali mengusik hidupku. Dengan suara 'pengganggu' tidur
di pagi hari itu terdengar, aku berharap Raya berada di apartemenku saat ini. Berharap,
berharap, karena aku sangat merindukannya.
Aku terkesiap ketika baru saja melewati bibir pintu
kamarku, mendapatkan suara alarm menyebalkan itu semakin kentara aku dengar dan
Raya terkapar di sopa panjangku. Ternyata ia masih hafal kode apartementku,
karena sengaja aku tidak menggantinya, aku berharap Raya datang tiba-tiba
seperti saat ini. Aku menghela nafas sesak, rasanya sedikit perih mendapatkan
Raya tertidur pulas di sana. Pelan-pelan aku terjatuh di lantai, tidak kuat
menahan lemahnya lututku untuk tetap berdiri. Aku terjatuh di depan Raya. Diam
diam mengamati wajah Raya, mencengkram semua penyesalan yang pernah dirasakan.
Raya benar-benar kembali, ia mengalah dengan egoku yang tidak pernah menyerah menyakitinya.
Raya mengalah!
Sulit aku mengatur nafas saat ini, ingin menangis tapi tak
mau Raya pun mengetahui. Selama ini sudah cukup aku menyiksa Raya dan diriku
sendiri. Aku mempertuhankan ego hingga membuat aku dan Raya saling tidak karuan
merasa. Aku menyukai Raya namun gengsi untuk memperjuangkannya. Egoku selalu
berkata bahwa Raya-lah yang harus memperjuangkan aku. Mudah bagi aku membuat
Raya jatuh cinta karena melihat Raya pun sangat mudah pindah ke lain hati. Tapi
untuk mencapai itu, Raya tidak pernah menampakkan tanda-tanda bahwa ia jatuh
cinta. Hingga aku hanya bisa bersikap biasa saja padanya. Sudah cukup, aku
lelah dengan egoku sendiri.
Alarm Raya berhenti dan perempuan itu tiba-tiba membuka
matanya. Aku mematung tidak sanggup melakukan apapun meski hanya menghembuskan nafas.
Raya menatapku heran, dahinya berkerut. Akhirnya, ia beranjak duduk seraya
menguap dan kembali melihatku.
"Ka
Evan?"
Panggilnya dengan nada serak. Aku menghembuskan nafas
kencang, mencoba mengumpulkan energi untuk mengungkapkan perasaan yang
mendominasi sejak Raya menghilang hampir dua tahun lamanya.
"Lupa
kamu untuk pulang?!" tanyaku sedikit memarahi. "Tega ya kamu tidak
menghubungi ayah-ibu dan Bayu? Kemana saja, hah?" lanjutku kesal.
Raya melongo dahulu, mungkin ia terkejut karena tiba-tiba
saat ia terbangun mendapatkan banyak hujatan dariku. "Aku bilangkan besok
kita bicara, bukan berarti aku menyuruhmu diam dan pasrah. Aku suruh kamu
istirahat, bukan malah menghilang.." jelasku mengungkit kejadian hampir
dua tahun lalu. "Kamu menelantarkan skripsimu dan membuatku khawatir. Kamu
sadar tidak, banyak orang yang berharap atas hidup kamu, kamu malah pergi entah
kemana. Aku khawatir Raya!" tambahku mengomelinya.
Raya kali
ini tersenyum, sekarang aku yang bingung. "Sudah mengomelinya?"
"Belum."
"Tapi
aku boleh menanggapi kamu dulu, kaa?"
"Silahkan.."
Raya
kembali tersenyum. Posisi kami masih seperti awal, Raya duduk di sopa sedang
aku di lantai. Masih menengadah jika aku ingin melihat wajahnya.
"Dulu,
bukan jawaban 'kita harus bicara' yang aku butuhkan. Saat aku mengirim pesan
seperti itu aku ingin sekali ada yang memelukku, aku ingin berteriak, aku ingin
pergi yang jauh dari rumah." katanya memulai. "Ka Bayu bukan seperti
kaka yang mau memdengarkan keluhanku. Ayah dan ibu sibuk bekerja, aku benci
mereka." tambahnya.
"Tapi
menghilang tanpa kabar bukan alasan, Raya!"
"Selama
hampir dua tahun ini, aku hanya tidak menghubungi ka Evan.."
"Apa?"
tanyaku terkejut. "Apa maksud kamu?" tanyaku lagi sampai-sampai berdiri.
Raya yang
sekarang menengadah, tapi dengan sigap ia memegang tanganku untuk kemudian
ditariknya dan menyuruhku untuk duduk.
"Duduk
kaa.."
Aku pun duduk
di sampingnya.
Raya
tersenyum dahulu karena aku menurut, "Ka Evan tahu.. alasanku bergonta
ganti pasangan?"
Aku diam.
"Alasanku
adalah kaka. Aku memutar otak bagaimana bisa aku membuat kaka cemburu, tapi
ternyata kaka malah bersikap tidak tertarik padaku. Hatiku hancur ka.. mempermainkan
hati banyak laki-laki.."
"Kamu
bohong, kan?"
"Meskipun
ka Evan meyakini bahwa itu kebohongan, tapi aku melakukannya berkali-kali dan mungkin
bisa menjadi sebuah kebenaran. Dan itulah kebenarannya.. aku menyukai kaka
sejak pertama kali kita bertemu. Ketika hanya satu orang yang melihatku iba saat
ka Bayu memukulku karena aku tidak menurut dan orang itu adalah ka Evan."
Aku diam. Mendengar Raya bercerita keluh seperti itu seakan-akan
hati dan otakku remuk seketika. Aku menyesali sikapku karena tidak pernah
memahami maksud Raya selama ini. Bodoh karena terlambat mengerti. Untung saja tidak
terjadi apa-apa pada Raya.
"Sekalipun
kaka menyuruhku menunggu agar kita bisa bicara besok. Kaka ga pernah datang dan
bicara padaku, meski aku tahu kaka sudah menemuiku, 'kan? Beruntung ka Bayu
bilang kalau kaka menyukaiku juga, jadi aku tetap menunggu.'
Untuk perkataan Raya yang satu ini aku merasa sangat
bersalah. Aku seperti penjahat yang memutilasi kepercayaannya. Raya diam-diam
menungguku, tanpa aku ketahui, tanpa aku melihat Raya dengan rasa. Ternyata dia
yang paling menderita.
"Maafkan
aku, dek."
"Berdamailah
dengan diri kaka, aku tidak suka kaka terlalu berpikir menggunakan ego."
"Ingatkan
aku karena itu, dek."
"Aku
tidak mau mendikte hidup kaka, belajarlah untuk mandiri."
"Dampingi
aku, dek."
Raya tersenyum
sembari menutup telinganya sepertinya ia merasa geli dengan sahutan sahutanku.
"Selanjutnya,
kamu harus wisuda."
"Aku
sudah wisuda setahun lalu, aku juga sudah mengajar di sebuah sekolah."
"Serius?
Aku kok gatau.. Bayu juga ga bilang sih."
"Aku
pergi dari rumah juga karena diusir oleh ka Bayu, dia ga bilang juga?"
"Badjingan."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar