By :
Siti Khotimah
Gambar
(https://kashmirreader.com/2017/02/01/world-must-understand-reasons-muslim-anger/)
Mengapa Islam Dituduh Sebagai Agama Teroris?
Teror dan terorisme
adalah dua kata yang hampir sejenis yang dalam hampir satu dekade ini menjadi
sangat populer, atau tepatnya sejak peristiwa serangan 11 September 2001 ke
gedung kembar WTC (World Trade Center) di New York seakan mengintimidasi Islam
sebagai agama ‘Teroris’, dan dituduh sebagai agama yang emngajarkan anarkisme
(kekerasan), radikalisme dan terorisme.
Kedua hal ini sering
terjadi kesalah pahahaman yaitu mengenai konsep islam yang sering dikaitkan
dengan kasus-kasus terorisme yang terjadi di dunia. Meninjau keterlibatan
tentang hal itu islam sendiri mengenal adanya jihad yaitu berjuang di jalan
Allah, makna inipun kadang disalah artikan sebagai suatu tindakan yang tidak
memiliki konsep hak asasi manusia, karena secara keyaknan berjuang untuk
merealisasikannya dengan cara membunuh atau mebinasakan yang dianggap sah dan
diperbolehkan. Anggapan yang seperti inilah yang sering dikaitkan denga gerakan
terorisme, justru sebenarnya terorisme adalah isu yang sengaja dikaitkan dengan
isu keyakinan islam yang benar. Isu tersebut dimanfaatkan untuk merusak dan
menghancurkan keyakinn islam, yaitu bahwa islam adalah agama radikal yang keras
dan tidak menghargai demokrasi dan kebebasab-kebebasan lainnya. Islam memang
mengatur tentang kehidupan di dunia, kebebasan tidak digunakkan secara salah
dan berlebihan, hal ini untuk kebaikan manusia itu sendiri. Maka dari itu islam
mempunyai hukum yang ketat dan aturan yang tidak bisa ditawar secara logika.
Karena semuanya telah diatur dalam Al-Qur’an sebagai wahyu yang sempurna. Jihad
pun dalam islam sudaah ada aturan dan ketentuan yang harus dipatuhi, bukan
semata-mata tindakan menghancurkan yang sering dikaitkan dengan terorisme.
Akar Dan Sejarah
Terorisme
·
Sejarah Terorisme
Terorisme muncul
pada akhir abad 19 dan menjelang terjadinya Perang Dunia-I, terjadi hampir di
seluruh belahan dunia. Pada pertengahan abad ke-19, Terorisme mulai banyak
dilakukan di Eropa Barat, Rusia dan Amerika. Mereka percaya bahwa Terorisme
adalah cara yang paling efektif untuk melakukan revolusi politik maupun sosial,
dengan cara membunuh orang-orang yang berpengaruh. Sejarah mencatat pada tahun
1890-an aksi terorisme Armenia melawan pemerintah Turki, yang berakhir dengan
bencana pembunuhan masal terhadap warga Armenia pada Perang Dunia I. Pada
dekade tersebut, aksi Terorisme diidentikkan sebagai bagian dari gerakan sayap
kiri yang berbasiskan ideologi.
Bentuk pertama
Terorisme, terjadi sebelum Perang Dunia II, Terorisme dilakukan dengan cara
pembunuhan politik terhadap pejabat pemerintah. Bentuk kedua Terorisme dimulai
di Aljazair pada tahun 50an, dilakukan oleh FLN (Front de Liberation Nationale)
atau Front pembebasan Nasional yang memopulerkan “serangan yang bersifat acak”
terhadap masyarakat sipil yang tidak berdosa. Hal ini dilakukan untuk melawan
apa yang disebut sebagai Terorisme negara oleh Algerian Nationalist. Pembunuhan
dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan keadilan. Bentuk ketiga Terorisme
muncul pada tahun 60an dan terkenal dengan istilah “Terorisme Media”, berupa
serangan acak terhadap siapa saja untuk tujuan publisitas. Bentuk ketiga ini
berkembang melalui tiga sumber, yaitu: kecenderungan sejarah yang semakin
menentang kolonialisme dan tumbuhnya gerakan-gerakan demokrasi serta HAM.
Pergeseran ideologis yang mencakup kebangkitan fundamentalis agama, radikalis
setelah era perang Vietnam dan munculnya ide perang gerilya kota, kemajuan
teknologi, penemuan senjata canggih dan peningkatan lalu lintas.
·
Akar Terorisme
Tumbuhnya terorisme
karena ketidakadilan sosial. Berbagai aksi terorisme dan radikalisme seringkali
disematkan pada orang-orang muslim, sementara realitas ketidakadilan yang
menjadi latar belakang aksi terorisme tidak pernah diungkap. Kebanyakan aksi
terorisme dilakukan sebagai reaksi atas hegemoni negara-negara Barat di dunia
Islam. Salah satu contoh nya, negara-negara Barat menguasai atau menghegemoni
sumberdaya alam negara-negara Islam.
Mereka bebas mengeksploitasi kekayaan negara-negara Islam, sebagaimana
yang dilakukan Amerika Serikat (AS). Bahkan terorisme juga dilakukan sebagai
respon atas tindakan AS yang melampaui batas dalam mengacak-acak dan mengadu
domba negara-negara teluk sehingga memupuk rasa benci kepada AS dengan
melakukan aksi terorisme.
Pendorong aksi
terorisme adalah pemberhalaan terhadap uang. Berbagai aksi terorisme yang dilakukan oleh umat Islam
tidak sepenuhnya murni menegakkan jihad atau untuk memperjuangkan penegakan
syariat Islam tetapi lebih banyak untuk memperoleh kekayaan atau uang. Bukan
rahasia umum bahwa perjuangan yang dilakukan Islamic State of Iraq and Syiria
(ISIS) bukan semata-mata untuk memperjuangkan dan berjihad melawan AS tetapi
semata-mata untuk memperoleh keuntungan duniawi. Kalau memang benar-benar untuk
menegakkan khilafah Islamiyah, semestinya pertama kali yang diserang adalah
rezim Suriah yang jelas-jelas melakukan pembunuhan terhadap muslim Sunni.
Semestinya ISIS juga akan menyerang Rusia, yang jelas-jelas identitasnya
sebagai non muslim dan banyak membunuh warga Suriah. Namun semua itu tidak
dilakukan oleh organisasi yang dibentuk organisasi yang banyak disinyalir
dibentuk oleh AS. Bahkan perilaku sadis dan kejam yang ditunjukkan ISIS, dalam
membunuh lawannya, sangat jauh dari nilai-nilai dan dan akhlaq Islam.
Islam Bukan Agama Teroris
Terorisme memang
sengaja disematkan dan dipaksa untuk dilekatkan pada Islam. Berbagai peristiwa
pembunuhan yang dilakukan oleh seseeorang atau sebuah komunitas, baik secara
terbuka maupun samar, pasti akan diarahkan tuduhannya kepada umat Islam. Bahkan
fakta-fakta pembunuhan, yang dilakukan oleh orang mereka yang jauh dari dari
atribut Islam sekalipun, terus saja dipaksakan pada orang Islam. Namun wacana
ini seolah terbantahkan dengan pengakuan seorang petinggi agama Katolik yang
menyampaikan pikirannya secara jujur bahwa tindakan terorisme bukanlah hak
milik umat Islam, namun juga ada dan dilakukan oleh orang-orang berbagai latar
belakang agama, termasuk Nasrani.
Pernyataan ini
diungkapkan secara jujur oleh pemimpin keagamaan Katolik, Paus Fransiskus, yang
menyebut bahwa tidak adil jika mengaitkan terorisme dengan agama Islam.
Menurutnya, penyudutan Islam dengan ajaran teror tidaklah benar dan tepat. Paus
menyebut bahwa ketidakadilan sosial dan pemberhalaan uang adalah penyebab utama
terorisme. Terkait dengan penyudutan agama tertentu dengan pemikiran terorisme,
Paus juga menyebut bahwa dalam agama Kristen pun ada yang memiliki pemikiran
tersebut, dan hal ini terjadi pada hampir semua agama selalu ada kelompok kecil
fundamentalis.
Dia menyatakan tidak
suka membahas kekerasan Islam karena setiap hari dia juga membaca surat kabar
tentang aksi ke kekerasan di Italia, ada yang membunuh pacarnya, ada yang
membunuh mertuanya. Mereka semua umat Katolik yang terbaptis. Menurutnya kalau
ada yang membicarakan tentang kekerasan Islam, maka seharusnya ia juga
membicarakan kekerasan dalam agama Katolik. “Andai saya berbicara soal
kekerasan Islam, saya juga harus membicarakan kekerasan Katolik. Tidak semua
muslim keras,” katanya. (Fokusislam.com.1/82016)
Fundamentalisme
bukan hanya ada dalam agama Islam. Fundamentalisme juga ada pada setiap agama,
seperti juga pada agama Nasrani yang menghabisi dan membunuh pengikut agama
lain serta menginginkan agamanya saja yang berdiri tegak. Pikiran
fundamentalisme ini mendorong untuk melakukan pembunuhan terhadap penganut
agama lain. Fundamentalisme juga ada di dalam agama Yahudi, yang tidak berbeda
dengan fundamentalisme agama lain. Fundamentalisme Yahudi juga mengangankan agamanya
yang paling benar dan menginginkan pemusnahan terhadap agama lain. Apa yang
terjadi di Palestina, dimana orang-orang Israel bukan hanya ingin merebut tanah
Palestina, tetapi juga ingin memusnahkan warganya. Sayang sekali perilaku
Israel yang terus menerus membunuh
enduduk Palestina tidak dikategorikan sebagai aksi terorisme.
Kesalah pahaman
tersebut menjadikan jihad dimaknai dalam bentuk kemasan agama. Para pelaku
teroris tidak memperhatikan dengan baik unsur sosial di dalamnya, sehingga
menimbulkan anggapan bahwa mereka dan agama merekalah yang benar. Inilah yang
kemudian menciptakan impian untuk membentuk negara Islam yang hakiki menurut
intepretasi mereka (pelaku teroris).
Stigma
Islam yang melahirkan kekerasan terus dimunculkan setiap hari di berbagai
belahan dunia.Hingga umat pun perlahan-lahan mulai percaya bahwa Islam
mengusung kekerasan seperti itu, padahal tak sedikitpun agama ini menganjurkan
kekerasan. Dalam berperang, Islam telah mengajarkan syarat dan ketentuan
seperti tidak sembarangan, tidak boleh membunuh non-kombatan, tidak boleh
merusak pepohonan, tidak boleh berlebihan, dan sebagainya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar