Sampai saat ini, Media Sosial (Medsos) semakin variatif dan banyak penggunanya. Inovasi-inovasi Sosmed pun beragam, mulai dari produk-produk Sosmed yang semakin bertambah sampai inovasi pada tataran fitur masing-masing Medsos itu sendiri. Keberadaan media komunikasi terkini itu kini seakan menjadi candu bagi masyarakat. Penggunanya pun beragam, baik dari segi usia maupun kalangan. Biaya yang diperlukan untuk bisa mengakses dan aktif di Medsos pun kini semakin terjangkau, yakni dengan banyaknya paket-paket data yang ditawarkan masing-masing operator. Penyebaran tower-tower sebagai transmitter sinyal pun kian menjamur sampai ke pelosok-pelosok negeri ini.
Sebagai perangkat untuk
bersosial, fungsi sederhana Medsos memiliki turunan yang amat banyak.
Komunikasi sebagai term dasar masih terlalu umum. Bentuk komunikasi pun dapat
terlihat secara nyata bahwa itu beragam. Selayaknya komunikasi verbal,
komunikasi di Medsos pun fungsinya tak jauh beda. Berawal dari upaya untuk
mendekatkan yang jauh, Medsos menjadi alat komunikasi modern dan mengerjakan
hal-hal dari jarak jauh, sehingga bisa meningkatkan efektivitas dan efisiensi
waktu.
Semakin maraknya Medsos semakin
banyak pula persoalan yang ditimbulkannya. Tidak sedikit kasus kriminal yang
terjadi karena penyalahgunaan Medsos. Sebagian modus penculikan juga terjadi
berawal dari komunikasi lewat Medsos. Belum lagi penyebaran foto-foto dan video
yang mengandung unsur pornografi kerap membuat iklim di dunia maya menjadi
panas. Pertikaian-pertikaian banyak juga yang diawali hanya karena
ketidakharmonisan komunikasi di Medsos. Masih banyak persoalan bangsa di negeri
yang ditimbulkan karena penyalahgunaan Medsos.
Terlepas dari persoalan
penyalahgunaan Medsos yang menjadi pupuk penebar aib, masih banyak masyarakat
yang menggunakan Medsos untuk hal-hal positif. Mereka yang pola pikirnya
berorientasi pragmatis bisa mengklasifikasikan mana yang merupakan prioritas
dan mana yang merupakan problem. Pada dasarnya, setiap manusia mempunyai
potensi untuk memilah dan memilih perbuatan mana yang layak diperjuangkan dan
yang tidak, khsusnya terkait penggunaan Medsos.
Medsos yang kini sudah menjadi
budaya hasil digitalisasi komunikasi, bisa menjadi media pelestari
budaya-budaya lain yang sudah ada. Berbicara budaya dalam term umum memang
sangat luas. Misal saja dikhususkan pada budaya lokal Indonesia yang kian hari
kian menyusut, Medsos dapat berperan untuk melestarikannya. Di antara
halaman-halaman dan grup-grup di Medsos sudah banyak yang menjadikan halaman
atau grup pusat komunikasi untuk orang-orang yang mempunyai minat sama dalam
suatu budaya. Misalnya, KOMUNITAS KARINDING (SAGALA AWI), yang merupakan salah
satu grup di Facebook. Grup ini memiliki member sebanyak 4.921.
Di saat budaya lokal kian
terasingkan dengan pesatnya kedatangan budaya luar Indonesia, perlu banyak
inovasi untuk mempromosikan budaya lokal. Pesatnya perkembangan budaya Barat di
Indonesia merupakan hasil promosi yang inovatif. Bagaimana cara orang Barat
merebut hati bangsa Indonesia khususnya kalangan muda-mudinya, itulah hal yang
tidak dimiliki oleh sebagian besar bangsa ini. Seperti yang semakin terasa
sampai saat ini, bangsa kita justru berdalih gengsi jika menjunjung budaya
sendiri.
Teringat
celetukan dari Pak Takmad, seorang kepala suku di Dayak Hindu Budha Bumi
Segandu Losarang Indramayu yang mengatakan kurang lebih, yang namanya budaya
adalah apa yang kita laksanakan sehari-hari. Kostum orang-orang di Dayak
Losarang pun memang setiap harinya hanya mengenakan celana pendek hitam-putih.
Mereka menegaskan bahwa apa yang mereka jalanilah yang dinamakan budaya dalam
arti sesungguhnya. Itu hanya salah satu contoh dari upaya pelestarian budaya.
Sebagian besar bangsa di negeri ini tidak berupaya menjaga kelestarian dan
malah hanyut dalam bius budaya asing yang terkesan lebih mengasyikkan.
Medsos
dapat digunakan sebagai alternatif dan langkah awal sebagai upaya promosi
budaya lokal, terlebih bangsa ini tengah dihadapkan dengan Masyarakat Ekonomi
Asean (MEA). Konon, budaya lokal nusantara merupakan aset penting dalam persaingan
di kancah MEA. Mengingat potensi senni dan budaya lokal Indonesia sangat
beragam, maka ini akan menjadi Kartu As dalam persaingan MEA.
Teknis di Medsos
Relatif Sederhana
Sebagaimana
yang telah dilakukan oleh banyak orang tapi masih kurang jumlahnya, perlu
diperbanyak grup-grup di Medsos yang mengatasnamakan nama masing-masing budaya
atau tradisi. Sebagaimana diketahui bersama, di negeri ini budaya melimpah
ruah. Dalam satu suku saja mempunyai seni dan tradisi yang beragam. Katakanlah
di Sunda misalnya, ada yang kesenian wayang golek. Satu macam kesenian ini bisa
dijadikan pion penting, semakin banyak member yang bergabung semakin besar pula
harapan wayang golek eksis di benak muda-mudi bangsa ini, bukan lagi seni yang
terkesan kolot. Andai wayang golek menjadi pion besar di kancah MEA, maka akan
menjadi aset penting dan bisa menjadi pemasukan pula untuk keuangan negara.
Promosi untuk gabung di grup
menjadi langkah penting untuk memperbanyak member. Mengajak untuk bergabung
mesti dilakukan sebanyak-banyaknya. Secara teknis tentunya perlu ada upaya
promosi yang menggugah bangsa ini. Misalnya, grup menyertakan foto atau video
penampilan dari suatu budaya. Dengan penyertaan foto video akan menjadi nilai
visual yang lebih mudah dicerna dan diingat oleh setiap orang yang melihat.
Efek visual merupakan salah satu alternatif persuasif.
Kita
juga perlu menyebarkan hal-hal positif yang terkandung dalam seni dan budaya
lokal. Sebagaimana kita ketahui bersama, banyak sekali pesan-pesan moral yang
terkandung dalam setiap seni dan budaya Indonesia. Di samping sebagai sarana
hiburan, seni dan budaya Indonesia juga menjadi alternatif dalam upaya memupuk
akhlak karimah. Terlebih saat ini, banyak program-program televisi yang sarat
akan contoh-contoh amoral. Terlepas dari baik-buruknya tontonan memang
tergantung pada cara setiap orang mencernanya. Akan tetapi, selagi ada cara
yang lebih baik untuk memupuk sifat akhlak karimah pada insan-insan muda bangsa
lewat seni dan budaya lokal, kenapa tidak?
Jumlah
promosi budaya lewat Medsos tidak boleh kalah dari promosi-promosi budaya
Barat. Selama ini porsi informasi-informasi menarik seputar seni dan budaya
justru malah banyak yang datang dari Barat. Sedangkan, promosi seni dan budaya
lokal masih kalah jauh jumlahnya. Bisa kita lihat di situs Youtube misalnya,
jumlah postingan berbau budaya lokal masih kalah jumlah ketimbang postingan
seni-seni modern.
Upaya
ini sudah menjadi tanggung jawab bersama seluruh bangsa negeri ini. Sebagai
bangsa asli Indonesia mestinya kita kebih apresiatif terhadap budaya lokal
daripada seni dan budaya Barat. Sikap apresiatif harus diimplementasikan dengan
upaya-upaya, minimal dengan menyebarkan informasi menarik yang dimiliki oleh
suatu budaya kepada khalayak ramai, lebih-lebih bisa ikut serta sebagai pelaku
dari seni dan budaya itu sendiri. Rasa memiliki atas budaya begeri sendiri
harus terus dipupuk pada setiap bangsa dan setiap generasinya. Dari rasa
memiliki maka akan timbul tanggung jawab moral yang nantinya tanpa ada perintah
dan ajakan pun akan mengalir dengan sendirinya.
Upaya
pelestarian dan peningkatan nilai seni dan budaya akan mendapatkan tiga manfaat
sekaligus. Pertama, sebagai rekreasi atau hiburan, karena walau
bagaimanapun hiburan adalah hal yang penting untuk menambah warna kehidupan dan
peningkatan daya kreativitas anak bangsa. Kedua, memupuk dan mengedukasi
moral pada anak bangsa, terlebih saat ini moral anak bangsa sudah semakin
banyak yang rusak. Ketiga, seni dan budaya lokal dapat dilestarikan,
bahkan dapat iktu bersaing di kancah dunia.
Oleh : Eka Tresna Setiawan
Sumber gambar : www.merdeka.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar